Posts

berpulangnya babeh

babeh yang biasa akrab di panggil dengan sebutan itu kemarin sore telah berpulang, ia yang selalu hangat dengan sapaannya saat saya lewat di depan rumahnya, suara khasnya yang selalu mendayu sebelum waktu subuh tiba. di subuh hari meninggalnya masih terdengar shalawatan khas, indah sekali.  kini seperti masa masa yang telah lalu, akan ada segala sesuat memiliki batas waktu, ia telah berpulang.  semoga Allah menempatkan beliau di sepaling baik tempat. 

Dasar Cina !

Menebar Kebencian  Biar ndak salah faham dibaca sampai tuntas.  Satu alasan saya menulis tulisan ringkas ini lantaran membaca sebuah tag di fb yang mengacu sebuah link website berisi tulisan yang bernada diskriminasi ( pembedaan perlakuan thd sesama warga negara ) dalam hal ini ras keturunan Tionghoa.  Dalam tulisannya mengutarakan lemahnya peran pemerintah dalam mendukung pribumi mengelola ekonomi di negeri sendiri, alih alih perekonomian kita dikuasai oleh sebagian besar warga negara keturunan Tionghoa, dalam banyak hal, makro maupun mikro. Berdasarkan pengalaman saya, saat bekerja di restoran mewah hampir 90% penikmatnya merupakan saudara kita berkulit bersih dengan wajah khas oriental, sedang para pekerja kebanyakan berkulit seperti saya agak matang seperti sawo. Juga halnya saat saya berbelanja ke pasar asemka, berapa banyak pribumi (yang saya maksud adalah kaum mayoritas asli turunan tulen Indonesia)  memiliki Toko berjualan kelontong? se titik.  Bagaimana...

Ada di kolong Langit

Munculnya segala perkara yang ada di kolong ini lantaran skenario Allah yang menuliskan Adam memakan buah terlarang.  Jika tidak,  mungkin anak cucunya sedang berleha leha berendam rendam di sungai madu, berlarian di lapangan yang luasnya tiada tara, bergelayut di pohon pohon dengan buah tak terbayangkan rasa dan bentuknya. Jika tidak, tak ada perang dunia II, tak ada sakit hati di tinggal kekasih mangkir dari janjinya, tak ada TV one pro oposisi, tak ada Metro TV projo, tak ada dan tak ada, yang ada hanyalah kenikmatan kekal abadi seperti yang Allah janjikan dalam kitabnya yang suci. Apalagi, tak akan ada penertiban warung nasi, tak ada opini opini dari kanan kiri, ndak ada itu semua, yang ada damai di surga itu sejahtera, indah sentausa, ndak merasa benar semua. Main serodok komentar, main comot obrolan, main membagikan gibah, hasut, iri, dengki, mempola opini masyarakat sampai bicara "iki sing bener piye??!!!".  Ho oh, ke alpaan bapak moyang kita Nabi adam alaihis sala...

Merawat semangat

Ada masa saat semua yang kita perjuangkan, harapkan dan rasakan dalam kehidupan dunia ini menjadi biasa biasa saja, ada di mana saat ibadah menjadi hal yang kering tak memiliki arti, sebatas pelafalan pelafalan doa dalam lain bahasa, bisa jadi tak mengerti apa maksudnya. langkah langkah yang menyebabkan cinta dunia berlebihan, selalu mendongak ke atas melihat orang orang dengan banyak materi memiliki keindahan, benar. semakin kau kejar dunia semakin kering hidup punya makna. isi adalah kosong, sedangkan kekosongan menyebabkan segalanya memiliki isi. 

Apapaun penilaian orang lain, hidup mesti terus berkembang.

Sudah lama tak menulis, belakangan ini saya lebih tertarik membuka buka blog orang lain dan kaskus tentunya, terutama blog kang rahard di http://rahard.wordpress.com  tulisannya membangun, walau tetap saja ada beberapa tulisan kontra dengan pendapat pribadi saya, tapi itu tak masalah, membaca blog beliau seakan mendapat vitamin baru dalam semangat. Kuliah sudah selesai tahun kemarin, menyandang gelar Bachelor tak merubah apa apa dalam kehidupan ini, hanya ada sedikit maklumat saja yang terpaut dalam kepala tentang pelajaran pelajaran hidup. selebihnya ilmu yang mesti di praktekan. Mesti Bagaimana? Menurut pribadi saya, masyarakat memandang pekerja itu baik, dalam artian berangkat pagi pulang petang, atau berangkat malam pulang subuh, orang dengan kebiasan seperti ini seakan mendapat pengakuan dalam strata paradigma masyakarat yang membagi dua ketegori : pekerja dan pengangguran. Pekerja yang bekerja, mempunyai status dalam pekerjaannya, baik itu kuli panggul, pedagang, peke...

Sepenggal Kaligrafi Kontemporer

saya tak pandai merangkai judul tulisan, yang penting bagi saya adalah judul tulisan yang saya buat klop dengan suasana hati saya, titik. hehe

Keris kaum Filantropi

Kuliah sudah selesai, Tak ada lagi pelajaran menunggu di dalam kelas. namun nyatanya panjangnya hidup tidak cukup hanya dibekali dengan beberapa tahun masa belajar. pelajaran hidup tak akan pernah selesai. kapan pun di mana pun, saya dapat belajar, menjadi apa yang saya suka dan mengerjakan apa yang cocok untuk saya lakukan. siang itu, saya tengah duduk menatapi layar komputer, mengumpulkan mood untuk mengerjakan surat penawaran dengan sebuah restoran. Tiba tiba saya kedatangan tamu, seorang bapak yang sudah lama saya kenal, saya pun menutup layar komputer, karena memang mood tidak juga terkumpul. si bapak mengajak mengobrol tentang kehidupan. memang kadang guru datang tanpa diminta. Sekolahnya tak tinggi, namun pengalaman pahit membuatnya bertahan, kini ia menjadi pedagang. dari keringatnya ia sudah membeli rumah, motor dan sesuatu yang ia butuhkan. ia mengatakan pada saya "kekayaan mah, bisa didapet, ngga perlu sekolah". "tapi" lanjutnya  " kemajuan ng...