Cuma Segelas teh tawar, kata si ibu
Saya baru sampai rumah, selepas menghabiskan 1 jam duduk di sebuah warung di pinggir jalan tepat di seberang pintu keluar tol buaran. sebelum duduk untuk kali pertama di kursi panjang di depan warung itu saya baru saja mengantar kakak ke sekolah, tepat 5 menit sebelum waktu bel masuk berbunyi.
di warung itu, hanya ada saya yang memesan segelas teh tawar ke seorang ibu paruh baya pemilik warung, si ibu menyuguhkan segelas teh tawar hangat dalam gelas kaca dengan meletakan tutup gelas di atasnya, sudah lama rasanya tidak melihat gelas lengkap dengan tutupnya. mungkin di sini debu debu dari lalu lalang mobil begitu masif, jadi harus ditutup, pikir saya.
saya duduk sendiri memandangi jalan yang ramai dengan berbagai macam merek kendaraan berseliweran, toyota fortuner, xpander, dan banyak lagi belum lagi belakangan mobil listrik mulai umum terlihat juga , wuling, byd , hyundai mulai mewarnai jalanan di Tangerang.
saya buka buku WALDEN, tulisan henry david thoreau membaca hanya 1 halaman, saya tutup lalu mendengarkan buku audio fokus dari daniel goleman, menarik sekali pagi ini, sinar mentari timur pas sekali menembus gelas teh menciptakan pendar cahaya kecoklatan di sekliling gelas.
teh habis, saya pamit dan hendak bayar ke ibu warung.
"bu jadi berapa ?" ujar saya
"ngga usah bayar mas, cuma teh aja "..
saya tertegun, ini kan warung kenapa tak mau di bayar,
"gpp bu saya bayar , jadi berapa bu "
" ah teh aja mas, tapi kalau mas mau bayar, 2.000 aja gpp"
saya bayar dengan uang 2.000 yang ada di saku celana,
lalu pergi pulang....
Comments
Post a Comment