JAKARTA


kemarin langit beitu biru, angin bergerak lamban nan lembut membelai semua wajah-wajah manusia penghuni jakarta selatan, saya, nurofik, mulyadi sedang asyik duduk-duduk di teras depan kamar kontrakan sambil ngobrol ngalor ngidul, kalo elor mentok putar arah ke kidul kidul mentok puter arah ke alor. begitulah kerjaan kami saat baru pulang kuliah, di temani dengan sebungkus "sukro", sukronya abis hal yang dibicarakannya pun habis, karena sukronya hanya sebungkus kecil, maka hari itu obrolan kami pun hanya sebentar namun bermanfaat. entah dari mana kami malah membicarakan anyaman hanya karena tak sengaja melihat pohon pandan tikar, setelah ngalor ngidul ngomongin tuh pohon dari sini kami tahu ternyata mulyadi ahlinya, mulai dari bikin bilik,bakul sampai-sampai kalau kita ingin memesan baju dari anyaman bambu atau pandan misalnya , mungkin ia akan membuatnya asalkan anda menyiapkan uang yang cukup besar, karena seniman yang satu ini sedikit bokek kalo akhir-akhir bulan. langit yang tadi indah cerah tanpa awan, angin yang tadi lembut bagai jari kuntilanak, berubah drastis, aku dan dua temanku yang sedang asyik duduk duduk sontak terbangun melihat sampah-sampah mulai dari plastik bekas, kandus, jemuran maknya nurofik, semua terbang dengan kawanan angin berputar putar menabrak apartemen, hotel dan gedung tinggi lainnya. mendung segera menutupi atap kontrakan kami dan daerah di sekelilingya, hujanpun tak dapat di hindari di sertai dengan angin yang bisa ribut ke sana ke sini. tetanggaku yang dari padang itu, berhambur keluar karena tiba suara atap kamarnya seperti ditimpahi batu yang datang entah dari mana. aku memandang aneh sekaligus tukut campur seru karena baru kali ini ngeliat anak angin tornado,,, angin semakin kencang hujan semakin deras guntur menyambar-nyambar, pohon kelapa menjatuhkan semua kelapa-kelapa tuanya. si IBu meminta kami membacakan sesuatu, "eeh ehh tolong bacaian apa kek!" teriaknya sambil bingung mondar mandir ke sana-kesini, memang karena dia tahu kami pelajar lipia yang sangat kental dengan nilai-nilai keislamannya. kami hanya bengong, mungkin maksudnya berdo'a, kami hanya beristigfar sebanyak mungkin takut atao kamar kami terbang entah kemana untuk yang lainyya biarlah ..... he he tak lama anginpun reda setelah adjan ashar berkumandang, namun kamar kami bocor disana-sini, namun hujan masih saja deras, untung kamar kami berada dilantai ke dua hadi tak usah repot-repot menimba air yang masuk kedalam kamar tak seperti mereka yang dilantai bawah... emang jakarta biangnya banjir.

Komentar

  1. mantap mie, seneng ane bacanya, ane tuh cuma seniman abal-abal,.
    mie ! buat lagi yang lebih seru n mantap

    BalasHapus
  2. hehe, jakarta emang punya seribu cerita ya...

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?