Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Klakson Vespa

indah sekali mendapatkan hak untuk bersuara di jalanan,
kemari kemarin, saya hanya bisa bungkam di jalanan, tak berani bersuara (lebih tepatnya tak mampu bersuara), karena hal itu belum mungkin tapi kini saya bersuara lantang.

setelah klakson vespa di benerin, saya bisa klakson sesuka hati, bahkan terkadang hanya untuk membuat diri saya senang saya klakson saat jalanan sepi,

ya klakson vespa ini adalah lambang kebebasan bersuara bagi saya, sebelumnya saya hanya bisa diam kalau ada sepeda motor atau angkot berhenti mendadak, saya hanya bisa diam kalau ada pengendara lain begitu lambat tapi jalannya di tengah jalan, saya lebih bersuara, lebih gagah, dan lebih berwibawa di jalanan, tidak hanya mangut mangut, saat pengendara lain mengklakson tapi saya hanya diam.

bersuara dengan klakson adalah suatu prestasi di kehidupan jalan,

saat pusing, saat pening menunggu lamanya lampu merah berganti hijau. tinggal pencet klakson sekencang-kencangnya toh di jalanan tempat kita bersuara, tempat saya …

jamblang?

Globalisasi buah mendesak buah lokal yang kalah pamor dan gengsi, terlebih harga ( jeruk impor asal cina lebih murah ketimbang jeruk lokal ).

     Coba lihat di kulkas, meja makan, ataupun di tempat tempat penjual buah, adakah beda ?
ada, buah lokal apalagi buah yang populer tahun 80 puluhan ( jamblang, gowok, kesemek, cereme, kokosan, boni ) kalah iklan, kalah pamor dan mungkin juga kalah rasa.

    Sebaliknya, penjual buah pinggir jalan, dagangannya di sesaki dengan buah impor, siapa yang nggak   kenal sama Apel Fuji, pir Shandong, Jeruk mandarin, Apel Red USA, Duren montong dan lain-lain. semuanya tertata rapih, tersusun di rak-rak supermarket, pasar kaki lima, di dalam kulkas dan di atas meja.

    Modern dan global bukan berarti mengalahkan dan menggusur sesuatu yang lokal.kenalkah anak-anak di sekolah dasar dengan buah buah yang tahun 80 puluhan di atas? memang nama-nama buah itu terkesan kuno, tak bergengsi atau mewah.

    Bangga dengan buah lokal menjadi cobaan…

bintang rembulan

syahdan, tak sempatlah aku selama beberapa tahun terakhir ini untuk melihat bintang, memerhatikan bulan, atau menikmati kelamnya langit malam , bukan karena sibuk atau apa , tapi, di mana sekarang aku bisa secara damai melihat dan menerawang semua makhluk langit itu, padahal saatku kecil dahulu, seringku perhatikan dan ku hitung jumlah bintang, kulihat rasi bintang yang sedang ku pelajari di selakolah.

Tapi kini tidak lagi.
Tembok rumah di sini di tempatku lahir dan bernafas semakin banyak saja menghalangi penglihatanku, belum lagi lapangan berumput hijau yang ku gunakan untuk rebah ku ganjal tengkukku dengan tanganku dan kuperhatikan bitang rembulan, ya lapangan itu kini telah betubah menjadi perumahan,

sawah yang airnya selalu mengalir jernih, tempatku mengejar layang-layang hingga padi-padi yang baru di semai rusak lantaran ku dan teman-temanku injak demi mengejar sebuah layangan, ya sawah itu kini telah berubah menjadi pabrik,

tanah lapang tempatku bermain gobak sodor, butul, be…

kelereng dan pulpen

Gambar
Kelereng dan pulpen
kemana imajinasi saya ? terpendam atau apa ?
waktu kecil saya sangat menikmati segala sesuatu, segala sesuatu yang saya miliki.
sewaktu sekolah dulu, kalau sedang musim kelereng, sewaktu istirahat istirahat sekolah, saya habiskan untuk main kelereng, pulang sekolah main lagi, sore sepulang ngaji qur'an main lagi, malamnya main lagi , bukan main kelereng tapi main petak umpet.  kapan waktu belajar? wah mungkin kalau ada PR saja. kebiasaan ini sampai saya kelas 6 MI, setelah lulus dan  masuk MTs, saya mulai belajar malam dan baca buku.
kelereng, bola keci dari kaca ini begitu menelisik perhatian saya, biasanya kalau saya menang main, gundu atau kelerenh ini memenuhi kantong celana, berat dan banyak, bunyinya seperti kaca beradu, membawanya pun senang sekali, biasanya salah satu dari kelereng itu saya dekatkan ke sebelah mata saya, dan saya arahkan ke sinar matahari, sementara saya memejamkan mata satunya. saat itulah saya mulai bermajinasi, sinar matahari dalam kel…

lupa

jarak Tangerang - Balaraja cuma 30 Km,
Hari ini saya sudah 2 kali pergi pulang, berarti totalnya 120 km saya duduk di atas,
satu setengah jam untuk setiap 30 km, berarti saya duduk di jok motor selama 6 jam di atas motor. hanya untuk jarak tangerang - balaraja.

6 jam hidup saya hari ini habis di jalanan, badan terasa pegal-pegal, otak nyut-nyutan. trrus bagaimana dengan supir? bagaimana dengan orang yang jarak tempat kerjanya jauh, apalagi kalau tempat kerjanya di jakarta ?. jaraknya memang dekat tapi macetnya yang nggak nahan.

kalau seperti ini, saya harus lebih menghargai perasaan supir angkot, perasaan supir bus yang tempramen, karena jalanan menurut saya  teralalu membosankan, belum lagi jalanan banyak yang rusak seperti di jalan
raya serang ini, ngebul, gersang, jalan berlubang, membuat perjalanan terasa melelahkan.

Yang membuat saya harus bolak balik sperti itu hanyalah kesalahan kecil, yaitu karena ada sesuatu yang tertinggal, kesalahan kecil manusia, LUPA!


saya dan lampu merah

saya dan lampu merah.
kalau saya melihat lampu merah, yang terbayang adalah macet. kalau saya melihat lampu merah, yang terbayang adalah peminta-minta dan saat saya berhenti di lampu merah maka yang terjadi adalah klakson yang nggak putus putus. pengalaman saya dan lampu merah. saat awal-awal bisa naik motor kadang saya merasa lebih bahagia saat berhenti di lampu merah, saya bayangkan orang-orang yang berjalan kaki di atas zebra cross di hadapan saya, mereka berjalan kaki saya duduk di atas motor (walau boleh minjem :D) ? he he alhamdulilah. 
padahal kalau saya pikir pikir lebih baik jalan kaki, trus jalan kaki nggak banyak berhenti lantaran lampu merah, nggak kaya naik motor, dikit-dikit berhenti apalagi di jakarta, sepanjang jalan yang sama bisa jadi 10 kali lampu merah bahkan lebih, jalan daan mogot contohnya, belum lagi kalau saya naik motor berarti saya turut menyumbang gas buang yang akan menambah panas bumi, tapi saya kan butuh cepat, masa ke jakarta jalan kaki sih? kalo na…

Duka Melanda bersama motor Vespa

Vespa, 
        satu kata yang bisa beranak pinak, bahkah bercucu dan bercicit pinak, sekedar kata-kata turunan vespa yang sering muncul adalah busi mati, mogok, club vespa, motor anti tilang, skuter besi, motor butut, motor jadul, mogok mulu, solidaritas, lampu mati, sen nggak ada, vespa keren, motor orang kaya (padahal yang bokek juga banyak yang punya :D ), serta cucu dan cicitnya. 
saya ambil satu kata saja " Busi mati ". 
 beginilah cerita busi mati itu :
     awalnya saya tidak lancar bawa motor, kemana-mana bawa sepeda, motor bisa tapi tidak lancar dan sampai saat ini belum punya, hihihi.
      saya baru bisa lancar dan itu juga menurut saya, menurut kesaksian orang yang pernah saya bonceng sekitar beberapa hari yang lalu, katanya, naik motor kaya naek delman (lambat bgt), maklum lah saya baru sering bawa motor di usia saya yang hendak menembus angka 22 tahun, kemana aja brooo?? 
pengalaman pertama dan terjauh saya bawa motor ke slipi, naik grand punya sodara yang tahun 90…