bintang rembulan

syahdan, tak sempatlah aku selama beberapa tahun terakhir ini untuk melihat bintang, memerhatikan bulan, atau menikmati kelamnya langit malam , bukan karena sibuk atau apa , tapi, di mana sekarang aku bisa secara damai melihat dan menerawang semua makhluk langit itu, padahal saatku kecil dahulu, seringku perhatikan dan ku hitung jumlah bintang, kulihat rasi bintang yang sedang ku pelajari di selakolah.

Tapi kini tidak lagi.

Tembok rumah di sini di tempatku lahir dan bernafas semakin banyak saja menghalangi penglihatanku,
belum lagi lapangan berumput hijau yang ku gunakan untuk rebah ku ganjal tengkukku dengan tanganku dan kuperhatikan bitang rembulan, ya lapangan itu kini telah betubah menjadi perumahan,

sawah yang airnya selalu mengalir jernih, tempatku mengejar layang-layang hingga padi-padi yang baru di semai rusak lantaran ku dan teman-temanku injak demi mengejar sebuah layangan, ya sawah itu kini telah berubah menjadi pabrik,

tanah lapang tempatku bermain gobak sodor, butul, benteng, tarik ubi, petak umpet kaleng, wak wakung, rumah hantu, tarik tambang, adu gasing, main gundu, yoyo, tanah lapang yang penuh oleh kelalawar setiap senja menjelang maghrib, kelalawar yang konon menyebar kutu rambut, ya tanah lapang itu kini berubah menjadi kontarakan, semuanya semakin sempit.

sampai-sampai kebanyakan anak  sekarang kehabisan ruang untuk bisa bermain, mereka menciptakan ruang imajinasi di kepala masing-masing, tanpa harus berlari, tanpa harus bersembunyi sepereti saatku kecil dulu, mereka memilih bermain di rental-rental playstation ataupun game online.

Aku ragu apakah bintang-bintang itu masih sama dengan yang kulihat dahulu, ataukah banyak terdapat perubahan seperti kampung halamanku ini, para perantauan semakin banyak , tanah semakin sempit, air semakin mahal, selokan kecil yang dahulunya selalu banyak ikan saat musim penghujan tiba, kini hanyalah selokan yang berisi sampah-sampah kotor malah kadang mampet.

satu sisi ekonomi kampungku maju pesat, dan di sisi lain banyak tumbal bergelimpangan.

Aku ingin kembali menatap bintang memerhatikan rembulan.

Dahulu saat main petak umpet di malam hari, Aku merasa bulan selalu mengikuti, ku sembunyi di kuburan bulan ada, di pepohonan bulan masih ada, ku sembunyi di WC umum bulan tak nampak, namun saat ku keluar ia kembali ada.

Aku ingin kembali menatap bintang malam dan memerhatikan rembulan.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?