14 Jul 2016

berpulangnya babeh

babeh yang biasa akrab di panggil dengan sebutan itu kemarin sore telah berpulang, ia yang selalu hangat dengan sapaannya saat saya lewat di depan rumahnya, suara khasnya yang selalu mendayu sebelum waktu subuh tiba.

di subuh hari meninggalnya masih terdengar shalawatan khas, indah sekali. 
kini seperti masa masa yang telah lalu, akan ada segala sesuat memiliki batas waktu, ia telah berpulang. 

semoga Allah menempatkan beliau di sepaling baik tempat. 


24 Jun 2016

Dasar Cina !

Menebar Kebencian 
Biar ndak salah faham dibaca sampai tuntas. 


Satu alasan saya menulis tulisan ringkas ini lantaran membaca sebuah tag di fb yang mengacu sebuah link website berisi tulisan yang bernada diskriminasi (pembedaan perlakuan thd sesama warga negara ) dalam hal ini ras keturunan Tionghoa. 

Dalam tulisannya mengutarakan lemahnya peran pemerintah dalam mendukung pribumi mengelola ekonomi di negeri sendiri, alih alih perekonomian kita dikuasai oleh sebagian besar warga negara keturunan Tionghoa, dalam banyak hal, makro maupun mikro.

Berdasarkan pengalaman saya, saat bekerja di restoran mewah hampir 90% penikmatnya merupakan saudara kita berkulit bersih dengan wajah khas oriental, sedang para pekerja kebanyakan berkulit seperti saya agak matang seperti sawo. Juga halnya saat saya berbelanja ke pasar asemka, berapa banyak pribumi (yang saya maksud adalah kaum mayoritas asli turunan tulen Indonesia)  memiliki Toko berjualan kelontong? se titik. 

Bagaimana Pabrik-pabrik besar di Tangerang? Saat saya bertemu general manager PT. presindo, dia keturunan tionghoa. Saat saya bertemu bigbos  PT. jayalatex, dia pun orang turunan Tionghoa, saat saya minum kopi di roti bakar 88 sing duwe turunan tionghoa, bahkan ketika sampean ngisep minakdjinggo sampai dji sam soe yang setia menemani habis buka puasa, sopo sing duwe? Pak Bejo, pak Asep atau poetra Sampoerna?, ya poetra Sampoerna pemilik saham walau sebagian sudah diakuisisi oleh philips moris. Nah poetra sampoerna turunan mana? 

Jadi yo memang kerasa jika segala lini ekonomi ada mata rantai saudara kita yang tidak kebetulan keturunan tionghoa di dalamnya. 

Dan pada akhirnya tersulut kebencian dengan bilang "itu orang cina kaya kaya amat ya, lah gua kayaknya nyari duit buat beli motor juga susah jasa". Ndak redo kalau warga pribumi jadi kuli di negara sendiri, bener begitu ? Yo bener laaaaah, terus mesti benci ? Yooo jangan, moso benci, benci itu pada orang yang mutusin cinta kita!! Woalah ngawur hehehe. 

Cobalah jalan jalan ke Pantai Indah kapuk, ke pluit, summarecon, alam sutera, modern land, perumahan Lippo. Sampean bakal ngerasa bukan di Indonesia, hihi. Karena rata rata pemilik properti di tempat yang saya sebut adalah saudara kita keturunan Negeri tirai Bambu. Terus ndumel? Terus sewot gitu? Benci gitu? Yaaa jangan... Coba renung dan cari cari informasi kenapa mereka bisa kuat dari segi ekonomi ( saya akan paparkan sedikit dalam tulisan ini) 

Jadi jangan nebar benci, comot link ora jelas menebar fitnah dan kebencian, membuntuti, mencari cari kesalahan, Menguntit informasi semu, saat sampean naro link berisi informasi kebencian, atau informasi keagamaan yang belum sampean klarifikasi kemudian ada orang jadi ikut mengiyakan informasi yang nyempil nada benci di dalamnya setelah mengklik link yang sampean taruh, sampean dapat satu pengikut untuk saling benci, makin banyak pengikut makin sukses sampean bikin negara ini makin semrawut. 


Kita terlalu lama dalam kebodohan

Pernah Baca tetralogi Bumi Manusia tulisan Mas Pramoedya Ananta Toer? Jika sudah Alhamdulilah, jika belum, beli bukunya ! baca biar tau kita seperti apa pada jaman dahulu, sebetulnya bukan dahulu karena kesannya udah lama banget, pada jaman penjajahan belanda. 

Dalam bukunya, kaum inlandeer/bumi putera/pribumi pada masa penjajahan mendapat sedikit akses pendidikan. Kecuali anak anak orang kaya, makanya miskin pangkal kebodohan ( bukan kata saya), apalagi udah miskin kaga mau belajar ( ini juga bukan kata saya). 

Nah karena sedikitnya ilmu, sedikit juga wawasan akan dunia jual beli ( karena pakai hitung hitungan), sedikit juga ilmu pemasaran, produksi dan lain lain. Jangan ngomongin apa nenek moyang kita bisa baca apa ngga? Mungkin arab pegon bisa, tapi aksara latin besar kemungkinan tidak, Karena warga bumi putra boro boro mikirin pendidikan, buat makan aja masih susah.

Belum lagi sebelum penjajah datang, orang indonesia di kuasai kerajaan yang hobinya perang main caplok caplokan, ya kapan sempet belajarnya. Wong rajanya ndak mikirin gimana rakyatnya sekolah, mungkin khawatir jadi pintar terus menggulingkan kerajaan minta ganti sistem dari monarki absolut jadi demorasi ( baca Arok Dedes Tulisan mas Pramoedya Ananta Toer). 

Di sisi lain, kerajaan sriwijaya sudah bersinggungan dengan orang tionghoa dalam urusan jual beli, begitu juga kerjaaan majapahit, kerajaan islam juga punya hubungan diplomasi dengan bangsa cina. Dan sampean tau orang orang cina merantaunya bukan sekedar antar kota seperti orang jawa ke jakarta tap antar negara bahkan antar benua, bukan untuk jadi TKI atau TKW, tapi untuk mencari kehidupan yang lebih baik. 

Saat kita di bawah kerajaan kita ora iso moco, saat kita di bawah penjajahan belanda makin parah, di bego begoin sama wong londo, lantaran kalau pinter nanti malah ngelunjak. 

Sedang Bangsa Cina yang datang ke Indonesia ( merantau ) baik itu suku Hakka, singkek maupun Hokian ( baca buku orang tionghoa dalam stabilisasi ekonomi dan politik di Indonesia, sebuah disertasi yang dibukukan) 

Jadi gini, orang cina yang datang ke Indonesia pada jaman dahulu itu minimal sudah punya bekal ilmu, setidak tidaknya membaca dan berhitung juga menelaah pasar, karena jauh jauh ke Indonesia kalau ngga kerjaan ya kelaparan. Akhirnya ada yang jadi pedagang pikul, tukang kredit duit ( rentenir), mereka pintar di saat kita masih bodoh, mereka buka usaha saat kita sibuk kerja rodi, saat kita sibuk romusha, sibuk usir belondo, sibuk garap lahan, sibuk debat sama centeng yang pro belanda, sibuk sama anak yang sakit, sibuk ini sibuk itu, duit ora dableg. 

Kalau sampean pernah melongok ke museum Bank Mandiri ( javanese Bank) pekerjanya rata rata dari keturunan tionghoa, karena mereka ngarti sama urusan duit lantaran udah pada belajar, lah orang kita jadi penjaga bank nya ( sekuriti). Udah mulai faham belum? 

Orang cina datang di indonesia bukan sebagai orang terjajah seperti nenek moyang kita, tetapi sebagai bangsa ke dua yang di pekerjakan oleh belanda karena kecerdasan mereka ( karena belajar ya, bukan karena orang cina punya otak lebih briliant. Otak mah sama aja), hanya saja nenek moyang saat itu kaga punya akses ke jalur pendidikan supaya pinter, pan banyak pribumi jaman dulu takut kalo ngeliat belanda. 

Mereka mendapat kesempatan terlebih dahulu untuk maju dan berkembang, memasuki berbagai aspek lini perekonimian, karena saat itu orang belanda yang megang politik, orang cina bolehnya dagang sama kerja di perusahaan mereka. 

Makin ke sini, mereka makin berkembang, karena pondasinya udah dipancang sejak jaman dahulu kala, dan jangan salah. Beberapa warga keturunan tionghoa memiliki koneksi yang kuat dengan saudaranya yang ada di luar negeri, jadi bisa lebih mudah meminta mereka jadi investor di sini di jalanin saudaranya yang warga indonesia. 

Terus terus bagaimana ?

Ceritanya masih panjang banget, intinya ngga usah khawatir, kita rajin rajin aja belajar dan baca peluang, rumusnya Tiru, amati dan modifikasi, dunia sekarang makin terbuka, walau kita agak telat dalam perekonomian dan jaringan serta kuatnya pendidikan, tapi bukan berarti kita bakalan lari dari persaingan. 

Kalau kata ahmad shugairi, 
Orang yang banyak bencinya, berarti dikit ilmunya.... 

Nyok lah, jangan saling benci, alih alih kita belajar aja yang bener, belajar wirausaha, belajar jadi spesalis di berbagai bidang, mereka warga keturunan juga orang Indonesia, kuta juga orang Indonesia, bumi di ciptain bukan cuma buat kita. 

Salam ramadhan, 
Allahumma innaka afuwwun kariiim 
Tuhibbul afwa fa fu anna ya kariiim. 














15 Jun 2016

Ada di kolong Langit

Munculnya segala perkara yang ada di kolong ini lantaran skenario Allah yang menuliskan Adam memakan buah terlarang. 

Jika tidak,  mungkin anak cucunya sedang berleha leha berendam rendam di sungai madu, berlarian di lapangan yang luasnya tiada tara, bergelayut di pohon pohon dengan buah tak terbayangkan rasa dan bentuknya.

Jika tidak, tak ada perang dunia II, tak ada sakit hati di tinggal kekasih mangkir dari janjinya, tak ada TV one pro oposisi, tak ada Metro TV projo, tak ada dan tak ada, yang ada hanyalah kenikmatan kekal abadi seperti yang Allah janjikan dalam kitabnya yang suci.

Apalagi, tak akan ada penertiban warung nasi, tak ada opini opini dari kanan kiri, ndak ada itu semua, yang ada damai di surga itu sejahtera, indah sentausa, ndak merasa benar semua. Main serodok komentar, main comot obrolan, main membagikan gibah, hasut, iri, dengki, mempola opini masyarakat sampai bicara "iki sing bener piye??!!!". 

Ho oh, ke alpaan bapak moyang kita Nabi adam alaihis salam, lantaran penasaran dengan bujuk rayu iblis, ndak tahan nafsu supaya ndak ncomot itu buah, daaaaaan terjadilah yang terjadi hingga akhirnya begini, beliau dilungsurkan menurut skenarioNya yang maha adil, jatuh ke bumi beranak pinak di sini. Di tempat kita sekarang ini. 

Coba saja nabi adam menahan "puasa" dari keinginannya yang sangat, ndak mungkin kita lahir di bumi, mati pun belum tentu kembali ke surga, ada neraka... Tempat salah kembali. 

Tapi ndak gitu juga, Allah maha adil, lah kita jadi bisa jatuh cinta di muka bumi, membuat segerombolan yang mengklaim masuk surga, membuat segerombolan yang di klaim masuk neraka. 

Beliau maha adil, dengan di utusnya baginda Nabi Muhammad saw, dengan cintanya menggiring kita untuk tidak terlena dengan dunia, memberi resep keseimbangan hidup dengan berpuasa. 

Puasa makan, puasa minum, puasa ngatain orang jelek, puasa melototin wanita cantik, puasa raga, puasa jiwa, puasa dari mencomot opini, puasa dari selalu menganggap benar berita yang ada, puasa dan puasa..... Berharap umpan iblis berupa buah di surga, yang kini menjadi beraneka ragam buahnya, baik buah di pohon atau yang buah menempel di tubuh manusia, tidak kita makan, karena sedang membiasakan puasa raga...melemahkan keinginan duniawi, sukur sukur setelah satu bulan berlalu, jiwa kita terus berpuasa ...

Allahumma afuwwun kariim, tuhibbul afwa fa'fu a'nna ... Ya kariiim