11 Nov 2016

Merasakan rasa

Kau terlalu indah untuk sekedar menjadi kiasan bumi langit,
kaulah bumi langit
kau terlalu cantik untuk menyaingi kecantikan ratu Balqis
Kau terlalu rupawan untuk menandingi putri raja raja.
Matahari Indah Sepertimu
Rembulan juga Ayu seindah Ayumu

Kau adalah lautan, kau adalah langit, kau adalah bumi
kau mengisi sanubari ini dengan getaran rindu,
kau tanah diseberang sana,
selalu kucinta
tak peduli seberapa banyak yang mendekatimu
tak peduli sehebat apa yang dekat bersamamu
tak peduli siapapun itu,
kau adalah cintaku

kau adalah senyuman langit dan bumi
kau adalah hamparan jagat raya,
kau adalah segalanya bagiku


29 Sep 2016

Kenapa tidak bilang?

Saya pernah membaca sebuah buku tentang hubungan, kisah ini juga diceritakan dalam chicken soup for the soul, mungkin dengan redaksi yang berbeda namun maknanya serupa. Seorang pasangan yang sudah bertahun tahun menjalani rumah tangga, mereka tinggal di rumah yang jauh dari pusat kota, hal ini menyebabkan pasangan ini berbelanja kebutuhan makanan seminggu sekali, mereka berbelanja dengan menggunakan mobil, sang suami menyetir, karena jarak parkir mobil dan dapur lumayan jauh mereka peraturan bersama,  si istri membawakan barang barang yang sudah dibeli, memindahkannya dari bagasi ke dapur. Sedangkan si suami merapihkan mobil kemudian membereskan semua barang belanjaan yang sudah dibawa ke dapur oleh istrinya.

Kerap kali si istri emosi saat melihat suaminya salah dalam hal hal sepele, baik itu menaruh piring setelah makan ataupun yang lainnya, si suami selalu menahan ego jika istrinya marah, semakin ke sini semakin sering sang istri tersulut emosi, hingga pada akhirnya ia meluapkan kekesalannya pada suaminya yang tidak membantunya membawakan barang-barang dari bagasi ke mobil.

Si suami berujar "kenapa kamu tidak memberi tahu aku, aku kira kamu merasa nyaman dengan peraturan bersama yang pernah kita buat, lagi pula aku sangat senang membantumu jika kamu merasa tidak nyaman dengan pembagian tugas ini, atau kita bisa membuat peraturan baru".

***

Yaps, yang perlu kita lakukan adalah meminta, kita terlalu tidak enakan untuk meminta, meminta pada suami untuk mebolong, meminta orang lain untuk merubah sikapnya pada kita jika kita tidak senang dengan sikap tersebut. Yang diperlukan hanya meminta dan mengkomunikasikan nya. Setelah itu orang yang kita minta akan tahu apa yang kita butuhkan.

Namun pada kenyataannya tidak demikian, kita merasa bahwa orang yang bersama kita nyaman dan baik baik saja, nyatanya ia memendam setitik demi setitik kekesalan yang tidak diungkapkan karena sikap kita yang tak ia senangi, atau keadaan kita yang tidak disenangi, atau hal hal lainnya yang kebanyakan tidak kita rasa kalau itu membuat dia kesal dan tak nyaman. Setelah lama dan "buuum", istri bisa minta cerai, atau suami tiba tiba menceraikan, pacar minta putus, atau perselingkuhan terjadi karena seseorang mendapatkan kenyamanan di tempat lain, padahal ia bisa memberi tahu pada suami/istri atau kekasihnya keadaan yang ia tidak senangi, mengkomunikasikannya, memendam rasa tidak enakan, dari pada hal hal yang benar benar tidak enak dan fatal bisa terjadi.

***

Tulisan ini hanya sebuah opini dan bersifat subjektif, peluang untuk dikritisi lebih besar dari manfaat yang bisa di ambil.

Salam hangat,

28 Sep 2016

Pantai Carita anyer, kenyamanan dan balutan alamnya.

Belakangan saya membaca buku "Jalan Raya Pos, Jalan Deandels" sebuah buku catatan sejarah tentang dibangunnya jalan raya pos yang menghubungkan barat dan timur pulau jawa, tepatnya dari Anyer hingga panarukan. Anyer sebuah tempat di salah satu ruas pantai utara jawa, diceritakan bahwa di tempat ini pernah terjadi perlawanan masyarakat sekitar terhadap kompeni belanda baik sebelum kedatangan deandels dan sesudahnya. 

Memang Pramoedya Ananta Toer, sang penulis buku begitu piawai dalam menuturkan cerita, lekuk demi lekuk jalan dan deskripsi singkat kota dan daerah yang dilewati jalan itu menjadi jelas dengan ceritanya yang mengalir, termasuk saat beliau menceritakan tentang Anyer. saya sendiri sudah beberapa kali ke Anyer, baik pantai matahari, Cibereum dan yang terakhir minggu ini saya ke Pantai Carita. sebuah pantai pasir putih tak berkarang yang menjadi banyak tujuan wisatawan lokal. 

Mobil yang saya tumpangi sampai ke parkiran pantai carita, saya lebih memilih hari biasa untuk berwisata karena pantai tidak akan terlalu ramai, bagaimana bisa menikmati alam, kalau manusia manusia terlalu banyak berseliweran. mobil sampai tepat bibir pantai ini bisa karena suasana lengang dan minim pengunjung. saya, wisnu, moko, agus, ruslan dan fadil keluar mobil.... baru saja membuka pintu, ibu-ibu dan bapak bapak yang sepertinya penduduk sekitar langsung menghampiri kami, menawarkan Tikar, Tatto bahkan jasa pijit yang hanya 10.000. saya menolak dengan sopan, karena belum menemukan tempat yang nyaman untuk sekedar menarik nafas, setelah menolak mereka tetap datang lagi dan lagi untuk menawarkan. fiuh. 

Bukan tempat seperti ini yang saya harapkan, saya dan teman-teman bergegas masuk ke dalam mobil dan pergi lagi menuju arah barat pulau jawa. tepatnya ke Tanjung Lesung. di dalam mobil saya menerawang ke masa masa Deandels sampai di Anyer, tidak mungkin dia di tawari berbagai hal seperti tikar untuk duduk, tatto, dan lain sebagainya pasti ia kembali lagi ke belanda menghadap louis Napoleon untuk di mutasi saja ke daerah lain, hehehe.


pasir berkarang di Tanjung Lesung


sampai di tanjung lesung, kami di sambut dengan keheningan suasana dan sayup sayup deburan ombak yang terdengar dari kejauhan. pantainya ada yang berpasir putih ada juga yang berkarang, ini kali kedua saya ke sini, suasanya yang nyaman akan selalu membuat saya menyimpan rindu untuk tetap kembali ke sini, mungkin nanti bersama istri.