kelereng dan pulpen

Kelereng dan pulpen

kemana imajinasi saya ? terpendam atau apa ?

waktu kecil saya sangat menikmati segala sesuatu, segala sesuatu yang saya miliki.

sewaktu sekolah dulu, kalau sedang musim kelereng, sewaktu istirahat istirahat sekolah, saya habiskan untuk main kelereng, pulang sekolah main lagi, sore sepulang ngaji qur'an main lagi, malamnya main lagi , bukan main kelereng tapi main petak umpet. 
kapan waktu belajar? wah mungkin kalau ada PR saja. kebiasaan ini sampai saya kelas 6 MI, setelah lulus dan  masuk MTs, saya mulai belajar malam dan baca buku.

kelereng, bola keci dari kaca ini begitu menelisik perhatian saya, biasanya kalau saya menang main, gundu atau kelerenh ini memenuhi kantong celana, berat dan banyak, bunyinya seperti kaca beradu, membawanya pun senang sekali, biasanya salah satu dari kelereng itu saya dekatkan ke sebelah mata saya, dan saya arahkan ke sinar matahari, sementara saya memejamkan mata satunya. saat itulah saya mulai bermajinasi, sinar matahari dalam kelereng itu memenuhi mata saya, saya semakin dalam mengamati kelereng yang hanya berjarak beberapa milimeter saja dari mata saya, gelembung - gelembung udara di dalamnya seperti planet planet di luar angkasa, warna kelereng itu bagaikan jagat raya, indah sekali, kadang ku ganti kelereng itu dengan kelereng yang berwarna lebig gelap, kemudian saya terawang lagi dengan sebelah mata, kali ini jagat raya menjadi gelap, tapi gelembung udara yang ada di dalam kelereng menjadi jelas dan terang saat terkena sinar matahari, gelembung gelembung itu saya anggap bintang-bintang yang bertebaran di jagat raya yang gelap.

indah sekali, kadang saya berlama lama menatapi kelereng itu dengan sebelah mata, saya benar benar menikmatinya, sekaan semua itu adalah pemandangan nyata yang luar biasa.

dengan imajinasi, saya bisa bahagia hanya dengan menatap sebutir kelereng.

kemana imajinasi saya saat ini? apa semakin dewasa seseorang maka yang ada hanyalah kehidupan nyata, segala sesuatunya bernilai nyata tak punya sisi lain yang bisa di nikmati?.

Padahal saat saya masih duduk di Bangku sekolah dasar, kalau pelajaran membosankan, saya bermain main dengan pulpen saya, saya anggap pulpen itu Appolo, saya pegang pulpen itu, mata pulpen saya hadapkan ke atap kelas, tutup pulpen itu saya masukkan ke ujung pulpen, mata pulpen saya anggap sebagai ujung appolo itu, Appolo itu saya jalankan pelan-pelan, menembus awan kemudian menembus lapisan langit bumi, dan akhirnya turun di bulan ( bulan dan tempat lepas landas appolo itu tetap saja mejaku), permainan ini sering sekali ku lakukan berulang ulang, karena sungguh luar biasa menarik, membayangkan appolo yang terbang dan menembus awan merupakan pengalaman hebat bagi saya.

belum lagi kalau melihat foto neil amstrong di buku pelajaran IPA yang sedang berdiri di bulan sambil memegang tongkat dengan bendera amerika di ujungnya.

Sebatang Pulpen saat itu ternyata bisa membuat saya bahagia.

ke mana imajinasi  ? apakah dengan semakin tahu kenyataan hidup imajinasi semakin terkikis ?

saya tak tahu, saya akan hidupkan kembali imajinasi yang terkubur dalam palung terdalam otak saya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Kelebihan Vespa = serign bebas tilang