PENDIDIKAN KITA

baru saja saya membaca sebuah koran nasional tentang sekolah gratis, di dalamnya terdapat sebuah cerita bergambar tentang dua orang pemuda-pemudi yang masih bersekolah tingkat pertama sebuat saja andi dan anna, ceritanya sangat sederhana :

mereka berdua sedang berjalan bersama,
anna min
ta dibelikan coklat,
andi pun berkata "wah lagi nggak ada uang nih" sambil membuka dompetnya.
tanpa sengaja anna melihat isi dompet yang sedang dibuka yang ternyata ada uangnya.
" itu apa?" tanya a
nna sambil menunjuk isi dompet.
" ini untuk bayar SPP" jawab andi
"sekarangkan sekolah sudah gratis" ** tukas anna yang ngebet banget minta dibeliin coklat .."bener kata iklan AXE cewek ngebet sama yang namanya chocolate".
" anna aku bersekolah dengan taraf internasional " jawab andi lembut, tidak mampu membeli cokelat akhirnya andi hanya membeli gulali.


dalam bangetkan!..., mengapa harus ada kata-kata" aku bersekolah dengan taraf internasional ", seakan sekolah gratis tak memberikan daya tarik, dengan gratis seakan kualitas KBM menurun padahal tidak seperti itu dalam teori kehidupan, tak ada pembelajar sejati yang hidup tanpa rasa haus akan ilmu, spekulasi dilema yang akan muncul adalah apa dengan gratisan, anak bangsa masih haus akan ilmu atau tidak...
buatlah anak muda kita haus akan ilmu, pembelajaran disekolah kebanyakan bertujuan mencari kerja bukan mencari ilmu yang akan menjadi komoditi bangsa kita.

** untuk SD dan SMP negeri

Komentar

  1. Teori humanisme beranggapan bahwa belajar adalah proses memanusiakan manusia. Entah mengapa teori ini begitu melekat direlung hati penulis. Terlebih lagi ketika mempelajari salah satu tokoh penting dari teori ini, Arthur Comb. dia berpendapat landasan konsep belajar adalah belajar terjadi bila pelajaran mempunya arti bagi individu. Anak tak biasa matematika atau pelajaran lainnya bukanlah karena bodoh tapi karena mereka enggan dan terpaksa, merasa tiada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Hal ini saharusnya menjadi perhatian serius bagi para guru. Motivasi.. ya anda benar. Guru yang baik adalah guru yang senantiasa membangun motivasi anak didik. Kurangnya motivasi belajar anak didik yang dapat kita lihat adalah bukti nyata bahwa pendidikan kita belumlah mencapai taraf outstanding. Hal ini semakin jelas terlihat dengan adanya tauran antar pelajar dan pelajar yang sering hang out di mall pada jam sekolah. Motivasi terbagi dalam 2. Pertama motivasi intinsik atau kita sebut motivasi dari dalam diri. Motivasi ini bersifat mutlak atau permanen dalam diri siswa. Kedua adalah motivasi ekstinsik yang asalnya dari luar individu. Yang biasanya hanya singgah sesaat dalam benak sisiwa. untuk itu saya mengajak pada anda yang perprofesi sebagai pendidik atau setidaknya sebagai pendidik dirumah tangga anda untuk selalu memotivasi peserta didik. satu lagi yang harus di perhatikan adalah para guru menyuruh anak muridnya belajar tanpa pernah mengajarkan cara belajar. Hal ini sangat saya rasakan ketika masih duduk di bangku sekolah. kejadian anak murid yang tak bisa matematika tak akan terjadi atau seminimalnya dapat kita minimalisir dengan kegiatan ini. menyuruh anak didik melakukan persentasi tanpa mengajarkannya melakukan persantasi terlebih dahulu seperti menyuruh orang yang tak dapat mengendarai mobil untuk mengendarai mobil, memang dalam hal ini sang pengemudi bisa saja selamat, tapi sebagai orang yang bijak tentu tak akan mengambil resiko tersebut. Mungkin ini tambahan sekaligus harapan pada pendidik dari penulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih bay tambahannya, hehe lebih banyak tambahannya ketimbang tulisan w sendiri, makasih makasih ... :)

      Hapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?