Nasib Buruh Di Indonesia

    Sekarang hari raya idul adha 1431 H, Rabu 17 Nopember 2010, semalam Ia sangat gembira, senang, dan bergairah untuk menyambut pagi ini, “ema” panggilan pada ibunya. Ema, beliau membuat opor dan ayam goreng ditemani  sahut menyahut takbir khas lebaran haji dari mushola dan masjid di kampung, di jalanan anak-anak kecil berkelompok membawa drum lalu menabuhnya keliling kampung, bertakbir dengan riang. Walau sebenarnya kurang sesuai kampung ini di sebut kampung, karena letaknya di tengah kota, dan juga tak ada pohon-pohon rindang atau tanah lapang yang mencirikan sebuah kampung, malah gersang, kebanyakan penduduknya orang perantauan, makanya jika idul fitri tiba, kampung ini menjadi sepi. Mungkin kampung hanya dalam sisi kemanusiaan, kampungan pikirannya kota gaya hidupnya.

         Langsung saja tanpa perlu banyak basa basi, hari raya yang indah menjadi rusak dan hati remuk redam, karena hari ini ema tetap bekerja, tak ada indahnya kebersamaan hari ini, beliau berjuang untuk pabrik yang produksinya sedang meningkat, meningkat di saat hari raya. Sedang  kakaknya tadi malam di saat orang –orang bertakbir, ia masih berkutat dengan pekerjaan di pabriknya, menjalankan titah ilahi untuk mencari penghidupan, berjuta orang yang senasib dengan ibu dan kakaknya, tak ada protes tak ada daya untuk berjuang menuntut haknya, pasrah pada ilahi hanya itu yang mereka bisa, tak ada tindakan dari dinas apapun, semuanya tunduk pada raja, raja yang tak dapat membedakan baik dan buruk,  ya! raja dunia, bukan presiden Amerika, tapi Uang, Uang raja dunia.

Ia bertanya pada ibunya “ mak, emang ga bisa nolak?”
Beliau mendekati anaknya “ tahun kemaren temen ema kerja hari idul adha, tahun ini ema kebagian”.

         Penjelasan ibu sudah cukup, tak ada penolakan, karena teman-teman sepabriknya pun bernasib sama, bekerja di pabrik yang pemiliknya kebanyakan orang luar negeri, china, jepang dan lain-lain, mereka  mendominasi kepemilikan pabrik di negara kita tercinta, membuat cabang di tanah kita, membuka lapangan pekerjaan, beribu-ribu orang terselamatkan dari kungkungan pengangguran, termasuk ema yang telah lebih sepuluh tahun bekerja di pabrik, dari semenjak si anak SD sampai duduk di bangku kuliah sekarang ini. Tapi sebenarnya mereka para pemilik modal dan perusahaan hanya menguras sumber daya alam dan tenaga manusia di daerah kita. Kalaupun ada pabrik yang perduli dengan lingkungan maka jumlahnya sangat sedikit. Rakyat tak terlalu peduli dengan semua itu, yang penting dapat kerja, bisa makan, bisa beli susu buat anak, dan kebanyakan dari mereka terlalu sibuk mengumpulkan uang untuk kredit sepeda motor, mengganti hp keluaran terbaru, beli baju baru,  jalan-jalan dengan uang yang sebulan dikumpulkannya di pabrik-pabrik mereka bekerja. Tanpa mikirin cape-cape tentang hak dan kewajiban.

        Ada penjajahan baru, kita belum sepenuhnya merdeka, pikiran kita belum merdeka, orang-orang pintar yang tak berhati nurani menjadikan rakyat sebagai mesin yang dikuras tenaganya, tanpa perlu banyak protes, karena rakyat adalah budak, budak dari orang-orang serakah. ema dan teman-temannya hanya patuh pada peraturan berat sebelah, peraturan yang sebenarnya dibenarkan atau tidak, bekerja di hari raya. Lembur yang sebenarnya hak seorang karyawan, ia bisa menolak atau menerimanya. Tapi di negara ini lembur seakan menjadi sebuah kewajiban yang mau tak mau harus dipatuhi, leader dan manajerpun membeo pada uang, kebanyakan mereka orang islam, tapi demi uang agama di nomor duakan. Tak ada kesempatan untuk karyawannya tersenyum di hari raya. Seakan mereka para manajer tak berhati nurani adalah orang pintar yang kurang pintar, pintar karena bisa menjadi manajer dan kurang pintar karena tak dapat mengatur penyelesaian produksi, tak mengatur jumlah produksi di hari-hari sebelum hari raya, sehingga beban produksi hari raya bisa ditekan sampai nol, sebagai contoh di pabrik kakaknya bekerja  para manajer telah mengatur jauh-jauh hari jika pabrik memiliki kegiatan resmi seperti perlombaan atau lainnya yang masih berhubungan dengan kepentingan pabrik, sehingga pada hari H tak ada produksi, semua karyawan libur bekerja. Tapi mereka tak merencanakannya jauh-jauh hari agar karyawan tak bekerja di hari raya mereka. Orang indonesia yang tak pernah memikirkan kebahagiaan rakyat, bangsanya sendiri.

        Suatu hari seorang pemilik pabrik datang berkunjung ke perusahaan miliknya, ia melihat karyawannya tak libur bekerja,
ia berkata pada manajer produksi yang menemani kunjungannya
“ apa tidak libur?”
“ tidak pak! “ dengan tegas si manajer menjawab.
“ orang indonesia tak menghargai negaranya!” ujar pemilik perusahaan

      Si manajer tertunduk dalam, merenungi perkataan bosnya, ia orang indonesia dan ia yang mengusulkan agar produksi hari ini tetap digenjot, karena permintaan sedang tinggi, namun tetap saja ia memikirkan kata-kata barusan, ia orang indonesia, sang manjer membatin dalam hati “demi uang atau demi citraku sebagai orang yang tekun bekerja di hadapan bosku hingga melakukan semua ini”  .Hari kunjungan itu tepat tanggal 17 agustus, Pemilik perusahaan mengusulkan agar karyawan segera di pulangkan, supaya mereka menikmati hari ulang tahun kemerdekaan negaranya. 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?