Penjual Racun di Dalam Kereta

      Suasana di salah satu gerbong kereta listrik Ekonomi jurusan Stasiun Kota - Bogor terlihat seperti hari-hari kemarin, sunyi. penumpang yang berdempet dan berdesakan lebih banyak diam, hanya para penjual Buah, Aksesoris, Pulsa, sampai Kaus Kaki yang berteriak lantang menjajakan dagangan mereka.

      Sesekali badan penumpang bergoyang saat roda kereta melindas sambungan rel, keringat mengucur dari pelipis para penumpang, panas dan gerah, karena tak ada AC di kereta kelas ekonomi, Kipas yang berputar-putar hanya mengeluarkan angin yang juga panas. terlihat beberapa penumpang tengah sibuk memencet-mencet tombal HP-nya, mungkin para copet bersiaga di dekat pintu gerbong sambil melamunkan anak bini mereka, sedangkan di atap gerbong, banyak penumpang lain yang sedang mengobrol, menunduk rendah takut tersengat listrik mematikan.

      Dinding gerbong penuh dengan coretan, kebanyakan nama sebuah sekolah, ataupun nama-nama orang jorok yang ingin cepat terkenal, mungkin. Bahkan di dekat pintu tertempel sebuah kertas putih ukuran A4 berisi iklan seorang dukun yang dapat membantu mencarikan jodoh, melanggengkan pernikahan, dan banyak hal-hal gak masuk akal lainnya. Kasihan sekali dukun-dukun itu, mungkin tak laku sampai miris melihat kertas iklannya yang hanya berupa kertas putih foto-kopian. dan lebih kasihan lagi orang yang tertipu oleh rayuan si Dukun yang mengaku bisa mencarikan jodoh. Oalah dunia macam-macam adanya.

Kereta sampai di stasiun Lenteng agung, berhenti sejenak, dan berangkat kembali.

sejurus kemudian seseorang bertieriak lantang sambil berjalan lambat di tengah gerbong:

" Ibu, Bapak, ayo sama-sama kita selamatkan Indonesia, kita selamatkan Tanah Air tercinta dari yang satu ini, yang lebih parah dari kasusnya Ariel, Bencana Banjir, ayo Bu ayo Pak ! cepat-cepat kita selamatkan Indonesia dari tikus-tikus, tikus yang sangat berbahaya, sawah bisa habis, uang bisa habis, ayo buk ayo pak, beli yang satu ini".

Orang itu terus saja berteriak seperti itu, berulang ulang, sedang tangannya memegang sebungkus racun tikus, menyodorkannya pada penumpang yang terlihat lesu. Ada satu dua orang yang membeli sebagai oleh-oleh untuk tikus-tikus di rumahnya.

Masih banyak bungkus lainnya di tas yang ia pakai.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?