hadiah pagi hari

inilah hadiah dari jakarta padaku pagi ini ....



Berawal saat hendak sarapan, temanku membeli lauk dari salah satu warteg dari sekian banyak warteg yang berserakan di kota jakarta, di jakarta lengkap, ada warteg 24 jam, 12 jam sampai 6 jam, bahkan ada juga warteg yang tak buka barang satu jam pun lantaran bangkrut.



setiap pagi, kami berusaha menjalankan apa yang guru kami bilang, " sarapan sebelum berangkat kuliah plus minum air putih yang banyak". kadang karena kami minum air putih terlalu banyak, kami harus pulang pergi kamar kecil - kelas saat dosen menjelaskan pelajaran, sambil mengangkat tangan plus sedikit senyum kami dengan lantang, jelas dan penuh percaya diri, bilang : "pak, ijin pak!", dosen hanya memberi isyarat dengan gerakan kepalanya ke arah pintu... isyaratnya itu adalah paspor kami pergi ke ruang lain, ruang yang lebih kecil, atau kamar kecil.



Dengan lauk yang baru saja temanku beli, acara sarapan bersamapun kami mulai, makan bersama dalam satu nampan, dan juga terkadang tapi jarang sekali kami makan di atas daun pisang, berhubung di jakarta tanah mahal, maka dari pada menanam pohon pisang, lebih baik menanam gedung atau kontrakan, suasana makan bersama ternyata memiliki nilai kebersamaan yang tinggi, kita tahu bebagai macam karakter manusia dari cara mereka menyuapkan nasi ke mulut, mengunyahnya, bahkan bagaimana bunyi gelutukan giginya saat mengunyah. dengan makan bersama seperti ini hati kami semakin dekat, walau kami berasal dari bangka, banten, padang, pontianak, tangerang, ciamis, tasik, wonosobo, bojonegoro, kuningan, garut, bekasi tapi hati kami berkumpul setiap makan bersama, makan sambil membicarakan kebiasaan adat makan di daerah masing, politik, kebebasan beragama, penodaan agama, sampai main tebak tebakkan " apa yang turunnya lambat tapi naiknya cepat...?"



Tapi pagi tadi berbeda, aku hanya menghabiskan beberapa suap makan, tak sempat menghabiskan makanan yang sedang ku kunyah, kegiatan makan kami hentikan seketika. penyebabnya, saat kami makan dengan nyaman, tertib dan penuh penghayatan tiba tiba mata kami terbelalak dengan seekor serangga besar dengan panjang 3 cm berwarna cokelat kehitaman berselimut kecap manis, kakinya masih lengkap, sayapnya utuh tak hancur, ya serangga dari ordo blattodea yang berada di seluruh dunia kecuali di kutub itu kini terbujur kaku di hadapan kami, mati tak berdaya menyatu dengan tempe oreg yang temanku beli dari salah satu warteg di jakarta.



Entah kecoa itu jatuh ke dalam wajan saat tempe digoreng atau apa, yang pasti pagi tadi kecoa telah masuk dalam nampan makan kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?