Lampu merah, Kotak seng, dan seorang preman

Jalan malam hari di pinggiran jalan jakarta nggak ada bedanya sama siang : Gerah dan Ngebul. 

Aku berjalan sama beberapa temanku melintasi sebuah jalan yang mengarah ke pertigaan. jalan yang kulalui menanjak, dan di akhir tanjakan itu ada sebuah lampu merah yang lelah terlalu banyak di langgar, kasihan sekali lampu merah itu, sudah kurus kurang urus, belum lagi kehujanan, kepanasan, di terpa amukan angin jakarta yang nggak jelas datang perginya, para pengendara yang sering mendampratnya, ya begitulah nasibnya, tiangnya sering di kencingin kucing, di corat-coret anak sekolahan.

 Lampu merah itu, dengan lesu membelalakkan mata merahnya, sesaat sebelumnya, saat ia mengedipkan mata kuningnya, motor dan mobil di hadapannya semakin kencang menabrak angin, lalu melintasinya, tak mau terjebak tatapan merah si lampu merah, " dasar orang nggak tau aturan, udah aku  kedipin, masih juga nggak mau pelan". Si lampu merah membatin.

Sebuah kotak seng besar berwarna jingga dan biru dengan ban yang sudah tipis, dan kentut ngebulnya, berhenti di hadapan si lampu merah, mesin kotak itu bergetar menggetarkan seluruh jendela di sisi kanan kiri, sang supir dengan handuk dekil tergantung di leher dan keringat yang bercucuran tak habis-habisnya di tambah bingung karena setoran belum juga terkejar, belum lagi hal yang sangat tak ia harapkan terjadi, mesin kotak seng besar itu berhenti mumgkin saluran bensinnya tersedak debu jalanan, jalan yang menanjak membuat kotak seng besar itu mundur, mungkin kampas remnya terlalu aus jadi gak kuat nahan beban.

si lampu merah semakin memerah menahan tawa, " kasihan, kasihan, Ah kenapa harus aku harus mengasihaninya, kadang si kotak seng karatan itu juga tak kasihan padaku, yang dengan sabar memberikan peringatan padanya untuk berhenti, tapi ia malah menerobosku, berlalu dengan sombong tak tahu betapa sakitnya hatiku, merasa kalau diriku tak berguna, di pandang sebelah mata". si lampu merah bergumam sendirian, hanya sayup angin malam jakarta  yang telah tercampur karbon dan timbal, mampu mendengarnya.

Pantat si kotak seng menabrak sebuah motor milik seorang preman di belakangnya. 
Aku hanya memperhatikan tingkah si pemilik motor yang ban depannya terjepit si kotak seng itu.
mula mula ia menggedor gedor badan si kotak seng, sambil berteriak dengan urat leher keluar " wooy-woooy!"
si kotak seng semakin mundur tak kuat  menahan beban, si motor semakin terjepit. sang supir panik karena  mesin tak jua menyala. keringatnya semakin terasa asam, ototnya sudah pasrah pada keadaan. 
Si pemilik motor semakin menyalak namun tak turun dari motor, 
"anjing, wooooy, setan... maju luh, anjingggggg......!!!!!" motortnya semakin terjepit.
ia semakin keras menggedor dan memukul. 
- grrrrrrrr - sang supir berhasil menyalakan mesin. 
pergi meninggalkan si pemilik motor yang masih menyalak, tak mau berbuat apa-apa.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?