Rokok dan generasi kita

           Lucu ya, penjual racun hisap, menjual racunnya di desa di kota, pembelinya mulai dari penarik becak hingga seorang profesional, sebagian untung dari penjualan racun ini digunakan untuk membiayai pendidikan, si penjual racun untuk perusahaannya dengan menggembar gemborkan kalau ia dermawan, berbakti pada bangsa.

          Pemerintah sudah melarang Iklan minuman beralkohol, tapi belum untuk iklan racun hisap ini, sebaliknya iklan racun ini tumbuh subur bak panu di tubuh yang kotor, terus berimprovisasi, kreatifnya tak kalah dengan iklan iklan pulsa prabayar yang hobinya  saling menjatuhkan, dalam iklannya sama sekali tak punya sangkut paut dengan racun hisap ini, malah yang di tampilkan sosok sosok lelaki  gagah perkasa, pintar, mempunyai inovasi tinggi, suka berpetualang, malah sampai-sampai menggendong kerbau pun bisa.

        Tapi tidakkah terlihat sebuah berita tentang bocah kecil ingusan, bau kencur, belum sekolah, mungkin baru beberapa tahun di sapih dari tetek ibunya, tapi kelakuannya seperti gatot kaca yang gagah perkasa, asap keluar dari mulut si bocah, jari jarinya dengan luwes menjentikkan si racun hisap yang ujungnya telah berubah keabu - abuan, miriskah/bahagiakah/banggakah mempunyai generasi emas bohongan yang sudah pandai menghisap racun?

         Sebuah even olah raga indonesia yang banyak di gandrungi masyarakat indonesia, yang supporternya selalu kesetanan kalau im dukungannya kalah, saling lempar batu, balok,  bahkan nauzubilah min zalik bom molotof pun berterbangan, ikat pinggang dengan gir bekas karatan di ujungnya,  di putar putar di atas kepala salah seorang supporter yang kemasukan setan gila, hanya untuk menakuti nakuti supporter pihak lain, untung saja gir itu tidak mengenai kepala siapapun. Ya olah raga ini sebagian besar di danai dari keuntungan racun hisap yang selalu di hisap sepanjang waktu di buana indonesia.

         Olah raga, Pendidikan, Kesehatan, sampai Pada kepedulian lingkungan haruskah mereka yang begitu peduli,  kemana pihak yang memang seharusnya lebih perduli pada hal yang demikian.

         Di satu sisi para dokter, pemerhati kesehatan, kementrian kesehatan, ibu guru bapak guru, dan semua orang tua baik yang menghisap racun maupun tidak, pasti  menginginkan orang selain mereka untuk tidak turut menghisap racun, untuk menanggulanginya mereka banyak mengadakan  seminar, talkshow, penyuluhan akan bahaya racun hisap yang satu ini, para dokter juga memajang poster-poster yang menerangkan keadaan seorang penghisap racun ini di ruang tunggu, ruang periksa atau kalau ada poster lebih, mungkin di jambanpun di pasang, seram sekali gambar di posternya.

         Namun di sisi lain, mereka sangat hoby menonton olah raga yang di sponsori oleh racun hisap ini, mereka mendapat dana pendidikan dari racun hisap ini, bahkan lingkungan mereka tinggalpun mungkin di buatkan lapangan, arena bermain dari  hasil penjualan racun hisap ini,  dilematis.

        Lihatlah tukang bubur, pedagang nasi goreng, penjual soto, sampai pedagang asongan, sebgaian mereka bisa jadi terbiasa merogoh kocek barang lima ribu sehari hanya untuk menghisap racun ini, menemani rasa jenuh mereka saat berdagang.  Sebagian petani, beberapa guru, sejumlah besar nelayan, sebagian pegawai di maskapai penerbangan internasional yang membuang bekas racun hisapnya di pot pot kantor mereka, sampai beberapa pemuka agamapun tak luput  menghisapnya, untuk hal ini taufik ismail sungguh piawai dalam puisi tuhan 9 cm nya.

        Cukai yang di bebankan pada penghisap tak mengubah keteguhan hati mereka untuk meninggalkan racun ini, mangan ora mangan sing penting ngebul , menteri kesehatan gusar rakyatnya banyak yang sakit, bahkan menteri keuangan hanya geleng kepala karena uang yang ada pada negara selain banyak yang di korupsi juga banyak keluar untuk membiayai tetek bengek masalah kesehatan yang timbul akibat kerugian menghisap racun ini, seperti yang di kutip sebuah harian nasional bahwa pendapatan dari racun ini lebih kecil daripada pengeluaran untuk menanggulangi masalah yang timbul karenanya.

       Jadi, bagaimana salah satu cara agar bangsa kita terbebas dari dilema bak lingkaran kusut tak berujung? Dengan menebang pohon pohon apel yang sudah terlanjur terserang hama, lalu menanam bibit yang unggul dan kuat dari berbagai serangan hama. Biarkan saja jika para leluhur kita gemar menghisap racun, yang terpenting adalah generasi setelah kita.

Komentar

  1. betul betul betul .. ^-^
    setuju setuju setuju .. :D
    contoh desa Bone-bone yang bebas dari asap rokok ..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Kelebihan Vespa = serign bebas tilang