Sistem kebut semalam hanya membuat saya tertekan

sumber gambar : farahalfira.blogspot.com=
        Belajar sampai larut malam, setelah subuh bangun lagi, hanya untuk membaca buku, wuih rajin banget, ya memang rajin, tapi hanya seminggu, setelah lewat seminggu kembali jadi sufi, buku pelajaran akan istirahat dan kembali di baca pada hari-hari ujian semester berikutnya. ya itulah aku yang masih berjibaku dengan sistem kusut dan mbrutut (sinonim amburadul) dalam menghadapi ujian semester.

       Kebiasaanku dan beberapa mahasiswa dengan sistem belajar yang telah turun temurun ini mesti di sisihkan dari daftar sistem belajar, sebuah sistem belajar luar biasa yang menyedot energi besar pula, sebuah sistem yang sangat brilian dalam sebuah ujian dan menuntut penghayatan dalam membaca dan memahami materi, hanya dalam satu malam atau beberapa hari. Sistem kebut Semalam (SKS).

         Ya, sistem kebut . . . Percepatan dalam belajar, tujuan utama dalam sistem ini adalah dapat menjawab butir soal yang ada dalam ujian pada pagi harinya,  Walau namanya kebut semalam tapi tidak mesti belajar hanya malam hari, mungkin belajar siang hari ini sampai subuh esok hari, semua materi dalam satu buku di lahap habis, dan keesokan harinya adalah waktu menuangkan kembali pada kertas jawaban apa yang telah di baca, di rangkum, dan di catat otak, benar benar menuangkan jawaban, dan kebanyakan setelah selesai ujian, hafalan yang penuh dalam otak semalam, menguap entah kemana.

       Ada penyesalan dalam hatiku memakai sistem ini, selain lelah, mumet,  dan tak nyaman saat menghadapi ujian, karena aku merasa apa yang ku baca dan hafal belum juga maksinal, terlebih ada beberapa bab yang ku baca dan hafal tak keluar dalam materi ujian.

      sampai saat ini aku masih mengutamakan nilai, mengetes sekuat apa hafalanku selama mempraktekan sks. belum sepenuhnya untuk mengetes seberapa faham dan mengertinya aku dalam sebuah pelajaran, ya seperti inilah kalau tujuan ujian hanya untuk mengejar nilai, setelah ujian semua materi yang sudah kupelajari sepetinya hilang entah kemana.

            kebiasaanku dan teman-teman adalah membicarakan soal soal yang baru saja keluar saat ujian,

" oh, yang pertama jawabannya A" kata si anu.
" Duh, gw malah jawab B" keluh temanku sambil menepak jidatnya dengan telapak tangan, " padahal semalem gw dah baca, tadi sih pengawas malah ngeliatin gw, jadinya gw lupa" tambah temanku semakin mengeluh.

      saat itu aku hanya ingin mendengarkan, tanpa bertanya tentang jawaban apa yang mereka pilih, karena kalau jawabanku salah akan lebih memusingkan dan menambah penyesalan, kenapa aku malah jawab begini, kenapa nggak begitu".

      Huh, aku merasa belajar hanya dalam semalam untuk ujian, hanya membuatku tertekan, tak puas dengan hasil yang ada, sekalipun puas karena bisa menjawab semua pertanyaan dengan Pede, tapi tetap saja pengetahuan yang semalam ku gapai hanya untuk hari ini, karena esok harinya aku sudah lupa lagi.
    
      sebetulnya, banyak  kiat jitu dalam belajar, dan sks adalah pilihan terakhir, berikut ini beberapa sistem belajar yang akan harus ku praktekan :

peta pikiran (mind mapping)
  • memetakan apa yang telah ku baca dan pahami dengan membuat sebuah peta pikiran, peta pikiran akan membuatku lebih ingat dengan membuat kaitan berupa gambar, kata kata, dan garis.
  • Belajar dengan mencicil, mengulang materi pelajaran hari ini, dan mempersiapkan materi untuk esok hari.
  • Membuang jauh jauh kebiasaan menunda, karena kebanyakan kita berpikir : belajar hari ini untuk ujian esok hari akan lebih efektif, nah pikiran seperti itulah yang mesti di rubah menjadi " belajar setiap hari akan memperbaiki kualitas pengetahuan kita".
    Semoga hari esok selalu lebih baik.

Komentar

  1. ih, gue mah malahan senengnya SKS. soalnya males banget kalo belajar....

    BalasHapus
  2. waduh bang, nyatanya nilai w loncat bunuh diri.
    SKS bikin nilai jadi anjlok.

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?