Hujan, Aku merindukanmu.

Kumerindukanmu Hujan
        Setiap melihat air hujan menetes dari tepian genting rumahku, melesat jauh ke tanah, ingatanku terbang ke masa lalu, sebelumku masuk sekolah dasar.

        Hujan adalah panggilan jiwaku saat itu, hujan adalah berkah, hujan adalah penanda kebahagiaan yang tercipta lewat bulir air yang menghantam tubuhku yang kecil mungil itu, menghilangkan keraguan akan ketakutan pada guntur yang menggelegar, ya, bulir air yang melesat penuh semangat itu melenyapkan keraguan pada kilatan petir yang merindingkan kuduk. Hujan kaulah sahabatku.

       Bersama sekumpulan kawan, berkejaran di tengah lapangan rumput yang tergenang, kecipak air dengan rumput lembut saat terinjak semakin indah, semakin membuatku takkan lupa pada lapang ini,  hujan masih terus saja mengguyur, bahagia sekali aku kala itu, terbang penat dan gelisah, oh ya, penat dan gelisah belumlah menghampiriku waktu itu, hidupku bebas, tanpa dosa tanpa beban. karena belum lagi aku masuk sekolah dasar.

        Hujan datang, ibuku resah, bapak gelisah, karena putra terakhirnya pasti tak betah di rumah, Ia akan mengembara bersama sejumput rumput di sawah, bersama kumpulan bunglon kecil yang sembunyi di bawah daun keladi. Purtanya akan sibuk mencari ikan betok, sepat dengan hujan memayungi, Aku masih bisa mendengar merdu suara gemiricik air dekat kali tempatku memancing kala itu, bersama sekumpul kawan, bersama kangkung sawah yang merayap di atas air kecoklatan.

        Hujan reda, aku dan kawan kembali pulang, setibanya di rumah, ibu gusar... mamandikanku begitu kasar, tak ingin ada air hujan menyelip setetespun pada tubuhku yang kuyu, dengan ujung-ujung jari keriput dan bibir kebiruan yang bergetar kedinginan. sayang setelahku mandi, Ia kembali turun dengan sumringahnya, merayuku untuk kembali bermain. maaf Aku tak bisa, aku sudah mandi dan telah mengenakan setelan baju kering dan bersih. Ia terus merayu, tak bisa kawan, ibuku tak rela membiarkanku bermain denganmu kali ini.

      Kawan, aku hanya bisa menemanimu dari dalam rumahku, dari daun jendela kontrakan ini, sambil memangku dagu pada tanganku, biarlah kulihat tetesan air dari sudut genting kontrakan ini, tetesan yang seperti angsa mengepakkan sayap saat bersatu membentur bumi, tempiasmu bagai kabut lembut yang membelai pipiku.

      Hujan aku merindukanmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Kelebihan Vespa = serign bebas tilang