Pengalaman membuat e-KTP

Suasana kecamatan tempatku tinggal yang biasanya sepi, kini di penuhi oleh puluhan orang,
kebanyakan para ibu dan bapak, sedang anak mudanya masih sibuk cari uang, karena sekarang hari senin, sedangkan aku sendiri bolos kuliah. ya itung-itung bantuin pemerintah mengurus pendataan untuk e-ktp.

Suasana yang nyaman dan teduh, membuat kantor kecamatan ini nyaman, sebuah tenda telah disiapkan tepat di depan pintu masuk kantor, di bawahnya deretan kursi plastik berwarna merah sudah berjajar rapih.

Aku yang baru langsung menuju meja tempat pendaftaran dan pengambilan nomor antri, petugasnya ramah, penanganannya cepat, selain mendaftar aku juga menanyakan seputar tempat kelahiranku yang salah dan namaku yang kurang satu huruf, data yang ada pada surat panggilan tidak sesuai dengan data pada KTP yang sekarang kumiliki.

Aku yang lahir di Tangerang, kenapa harus tertulis Tulung Agung, baguslah hanya tempat lahirku yang salah, dan nama yang kurang satu huruf, jadi bisa langsung diperbaiki hari ini juga, tapi kasihan dengan orang yang tanggal lahirnya salah, mereka harus kembali lagi pada waktu yang belum ditentukan.

"Duh, saya sudah rapih begini, izin tidak mengajar, setelah datang malah suruh pulang" ujar salah seorang guru.

Bukan hanya satu dua orang yang tanggal lahirnya salah, tapi puluhan orang, mereka harus menunggu panggilan untuk memenuhi data e-ktp yang berlaku secara nasional. kasihan mereka, belum lagi mereka semua menyempatkan  datang pada hari ini dengan mengorbankan banyak kegiatan resmi mereka, tapi nyatanya setelah datang, hanya berurusan untuk membetulkan yang salah, dan selanjutnya menunggu ketidakpastian, memang sih KTP lama masih belaku, tapi yang perlu ditanyakan, kenapa banyak sekali kesalahannya, kalau satu dua orang wajarlah, tapi kalau mencapai puluhan orang?

Setelah mengetahui sumber kesalahan, saya baru faham, ternyata data untuk pembuatan e-ktp adalah data yang digunakan untuk pemilihan wali kota dan gubernur, padahal saya ingat betul, kalau saat pendataan saya memberikan informasi yang sebenar-benarnya, dan semua orangpun pasti sama, karena mereka tentunya tahu betul kapan dan di mana mereka lahir.

Pemindahan data ke dalam komputer mestinya tidak dilakukan secara terburu-buru dan asal-asalan, bukankah mereka telah menerima gaji untuk pekerjaan ini?, atau orang yang menerima pekerjaan ini meminta anaknya untuk memasukkan data, atau orang lain yang tidak merasa bertanggung jawab atas pekerjaannya.
mestinya, pekerjaan yang cukup vital ini  baiknya tidak serta merta diberikan pada seseorang lalu sang pemberi pekerjaan lepas tangan begitu saja, hanya memberikan pekerjaan tok. Tak ada training, tak ada pelatihan yang mumpuni, sekalipun ada pelatihan banyak peserta yang hanya mengincar uang saku dan sertifikatnya saja, ilmunya terbang tersapu angin.


Kembali ke tulung agung, kok bisa ya? padahal ke sana saja aku belum pernah, tangerang dan tulung agung, hanya sama huruf awalnya saja, sisanya berbeda jauh sekali.

Saya sungguh mengapresiasi pembuatan e-ktp ini, selain cepat, nyaman dan mudah, yang patut diancungi jempol adalah karena pembuatan e-ktp ini tidak ada catut menyatut atau sunat menyunat, semuanya gratis, mungkin hanya waktu dan ongkos yang dikorbankan, tidak seperti pembuatan KTP biasanya, yang bisa merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah, padahal sebetulnya sama : gratis.

Hanya saja mesti ada perbaikan di sana -sini, tapi pada intinya saya bangga menjadi orang indonesia, sebuah bangsa yang besar, sebuah bengsa yang tengah merangkat untuk bangkit dan berjaya, asal saja sunatan tidak makin marak terjadi, kalau perlu seperti china, yang suka dan doyan sunat langsung saja di sunat kepala atasnya.





Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?