Jalanan berlubang mengapa terus dibiarkan?

          Satu jam yang lalu saya begitu tersiksa oleh kondisi jalanan, sebetulnya bukan memberanikan diri, tapi saya memaksa diri saya untuk tetap kembali ke kostan di pasar minggu padahal sudah jam setengah sepuluh malam, memang ada apa dengan malam?

          Pulang pergi malam hari merupakan hal biasa, tapi yang tidak biasa adalah karena di Tangerang sedang hujan (pada akhirnya saya tahu kalau jakarta tangerang berbarengan diguyur hujan) sedangkan saya mesti pergi ke pasar minggu di jakarta selatan dalam keadaan hujan, kan cuma hujan ? memang hanya hujan air, saya bisa menggunakan jas hujan. tapi yang menyiksa saya bukanlah hempasan air hujan, tapi yang membuat saya  cukup tersiksa karena saya harus selalu waspada dengan kondisi jalanan yang memantulkan sinar-sinar berwarna merah dari lampu belakang motor, mobil dan sinar lampu jalanan. ya semua sinar itu membaur menjadi satu membuat warna hitam aspal menjadi berwarna warni, membuat lubang-lubang yang bertebaran di sepanjang jalur di Jakarta dan Tangerang semakin samar terlihat, garis-garis putihpun demikian, warnanya yang kian pudar kalah oleh cahaya mobil dan lampu jalanan yang berpendar kemudian memantul di permukaan aspal yang basah.

          Dalam keadaan seperti ini, tak seperti biasanya, kalau aku terjebak lampu merah, saya sering berharap berganti hijau agar saya dapat langsung meneruskan perjalanan. tapi kali ini tidak,  saya akan lebih senang terjebak lampu merah lebih lama, karena saya dapat menyeka air yang menempel pada kacamata minus yang saya gunakan, air-air itu semakin membuat warna menjadi pecah dan menyilaukan mata sehingga jalanan tampak tak begitu jelas, sengaja kaca helmku tak kuturunkan karena akan menjadi lebih parah lagi, kaca helmku belum lagi modern, jangankan terkena air hujan, tak terkena air hujanpun, jika malam hari warna -warna lampu akan berpendar di kaca itu dan semakin membuatku tersiksa untuk lebih ekstra fokus memperhatikan jalanan.

          Saya sangat berharap dengan sangat, agar kiranya lubang-lubang di jalanan, terutama di jalan daan mogot yang menghubungkan propinsi Banten dan Jakarta untuk segera ditambal. karena lubang-lubang banyak membuat perjalanan terganggu, lebih-lebih garis jalan  yang sudah hilang, semakin membuat jalanan tak jelas mana batas-batasnya.

         Akhirnya, dengan kecepatan rata-rata 40 Km/jam saya bisa sampai dengan selamat di pasar minggu, terima kasih Allahku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Kelebihan Vespa = serign bebas tilang