Benih Cinta Satu Agama

    Kebencian dan ketidaktahuan seperti yang pernah diungkapkan Agus sardjono di dalam majalah sastra Horison rasanya sesuai betul dengan puisi KH. Mustofa Bisri dengan judul Kaum Beragama Negeri Ini, saya merasakannya sendiri, ketakutan tersebar di tengah masyarakat, golongan tradisional menyalahkan golongan modern, modern menyalahkan tradisional, tapi tak ingin beradu argumen, hanya saja saling menjatuhkan di depan masyarakat awam, tercipta kebencian, sesama warga dalam satu agama, haruskah demikian?, saling berebut kebenaran ? padahal semua sudah tahu mereka semua memiliki dasar yang benar, perbedaan yang sedikit telah menutupi kesamaan yang begitu banyak, kesamaan yang begitu mendasar dalam agama yang sama tertutup dengan secuil perbedaan dan menciptakan kebencian jika kedewasaan tak maju selangkah di depan.

   Ketakutan akan tercerabutnya pemahaman yang telah berakar dan melilit kuat-kuat ingatan manusia akan kebenaran Agama sebenarnya tidaklah mesti terjadi jikalau saja mereka lebih membuka hati saling memahami dan memperdalam perbedaan yang ada, jika dirasa pendapat lain lebih benar dan lebih sesuai, kadang yang timbul malah menutupi hati sendiri dengan tetap berpegang teguh pada keyakinan lamanya, walaupun tahu ada yang lebih benar dan lebih dapat dijelaskan, tapi yang terjadi tidaklah demikian, kebencian begitu mudah tersulut hanya dalam perbedaan, kapankah kita mengenyampingkan perbedaan yang ada, dan kita bersatu padu, dalam Agama yang satu, Agama yang membawa kedamaian untuk sesama.

Mereka yang engkau anugerahi
kekuatan sering kali bahkan merasa
diri Engkau sendiri
Mereka bukan saja ikut
menentukan ibadah
tetapi juga menetapkan
siapa ke sorga siapa ke neraka.

Mereka sakralkan pendapat mereka
dan mereka akbarkan
semua yang mereka lakukan
hingga takbir
dan ikrar mereka yang kosong
bagai perut bedug.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?