Menggapai Awan di Puncak Galunggung

Galunggung, Sumber foto :wikipedia.org
     Mendorong  sebuah mobil mogok saat menanjak memang sebuah pengalaman yang nggak gampang terlupakan, ini terjadi saat saya dengan 5 sahabat berniat berkemah di Galunggung yang tingginya 2.167 m di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya (02/11/11), mobil yang kami tumpangi menanjak terus menerus, di sepanjang jalan yang berkelok menanjak hanya ada mobil kami, tak terlihat ada kendaraan lain, di tengah tanjakan tiba-tiba mesin mobil mendadak istirahat, mungkin kecapean terus - terusan menderu menanjak. Alih-alih kami harus turun mendorong mobil tersebut. tak lama berselang mobil hidup kembali, buru-buru kami masuk ke dalam mobil khawatir mogok lagi.
di lembah puncak galunggug

    Galunggung bisa menjadi salah satu tujuan tempat berkemah, di sini tak ada macan, harimau, sinyal  ataupun hal - hal menantang lainnya, dan di sini kita bisa melihat pasir di mana-mana, ada juga pemandian air hangat di kaki gunung dengan biaya masuk 3.000/orang.



Danau kaldera di puncak galunggung
     Setelah sampai puncak ternyata masih ada puncak yang lebih tinggi, dari parkir mobil kami harus mendaki 620 anak tangga untuk bisa mencapai puncak yang lebih tinggi, sayangnya saat mendaki tangga hujan besar turun, suara halilintar menderu, kalau hujan tak masalah, tapi halilintar itu yang membuat bulu kuduk merinding, sepanjang tangga hanya ada kami ber-enam, tanpa payung, kami gelisah, mudah-mudahan halilintar tak mencolek kami, bisa-bisa pulang nama, tapi syukurlah semua itu tak terjadi,  sesampai di puncak gunung hanya putih yang terlihat, gumpalan awan bagai kapas berada di mana-mana, dalam hai saya bertanya "mana kawahnya, perasaan dari tadi nanjak terus, tapi nggak ada kawah yang keliatan ?", Galunggung juga terkenal dengan kawah kalderanya, untuk sampai ke kawah yang berbentuk lembah di puncak gunung kami harus turun lagi sekitar satu kilometer karena tak ada anak tangga, yang pastinya cukup  menguras tenaga.

      Malam mulai turun, kami mendirikan kemah dengan berpayung hujan, lalu menyalakan api unggun sesaat setelah hujan berhenti, sepi menyeruak, di puncak hanya ada kami berenam di tambah satu orang yang berada tak jauh dari tenda kami. saya perhatikan ia tengah bersemedi, mendekatkan diri pada Ilahi, kabut datang berduyun-duyun tanpa henti, cukup dingin ternyata, kopi torabika hangat cukup untuk minuman malam.  

Letusan galungung 1982 disertai petir
sumber : wikipedia.org
     Mentari kembali muncul di sisi timur gunung yang terakhir meletus tahun 1982,saat meletus heboh sekali, beritanya mendadak jadi headline Koran Nasional, konon kerugian mencapai satu milyar akibat kerusakan yang timbul dari letusan gunung ini, bekas letusan terisi air dan menjadi danau kaldera, danau itulah yang akan jadi tujuan kami selanjutnya, tak ada jalan kendaran menuju kawah, yang ada hanya jalan setapak yang berkelok kelok, kanan kiri tumbuh pakis, Khandam, dan rerumputan, tak ada pohon besar di sekitar kawah, mungkin karena permukaannya yang tertutup pasir hitam. setelah 30 menit berjalan akhirnya terlihat kawah dengan warna air kehijauan, saat saya mendekat di bibir danau terlihat ikan-ikan kecil yang tengah berenang, karena  jauh di dalam kawah terpendam magma yang masih aktif, terlihat gelembung-gelembung seperti air bergolak yang muncul di permukaan danau pertanda kalau di dasar sana ada panas yang luar biasa.

     Kebetulan saat kami berkunjung bukan saat-saat liburan sekolah, jadi tak terlalu banyak pengunjung yang datang, Galunggung kalau dikemas lebih apik lagi bisa menjadi tujuan wisata yang menyenangkan.

>>kenangan taufik, romli, miftah, ismail, wahab..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?