Duduk di Atas Batu Nisan

    
    Setiap Aku berjalan di keramaian, entah mengapa manusia-manusia itu begitu sibuk memperhatikanku, seakan mereka menaruh simpati, simpati pada apa aku tak tahu, yang penting kini aku hidup nyaman, bebas tanpa beban, tanpa apapun itu yang dahulu saat kubelum sebebas saat ini membuatku pusing, kini aku merasa menjadi diriku sendiri, tanpa ingin di ganggu dan mengganggu, bukankah itu tujuan kehidupan masa kini.

    Aku berusaha menelelanjangi diriku sebisanya, cinta membuatku terlalu rindu akan syahwat, padahal setelah kutahu nyatanya cinta dan ahwat itu berbeda, syahwat hanyalah setitik zarah dalam cinta, ah pusing pusing...!, ya syahwat yang dahulu pula menutupi diriku dengan pakaian milikku, kini kulepas pakaian itu, hartaku ku lempar, karena Aku tahu cinta itu bukan syahwat, cinta adalah ketelanjangan. telanjang dari segala-galanya, namun syahwat hanya bisa menggerakkan sebagian menggerakkan jasmaniku, syahwat hanya mampu membangunkan yang awalnya lunglai terkulai, menggerakkan yang semestinya diam, mendebarkan yang seharusnya tenang, ya hanya itu yang ku bisa, syahwat timbul tenggelam, namun yang ku inginkan adalah cinta, cinta dan cinta, ku ingin terlepas dari warna syahwat, bau maupun rasanya.

   Cerita apa aku? cerita apapun yang kumau. tentang diriku tentang ketelanjanganku tentang kehidupanku yang bebas tanpa syahwat. tapi entahlah andai tak ada syahwat pun mungkin tak ada aku, tak ada keinginanku untuk hidup.

   Duduk di sebuah nisan kuburan tanpa baju tanpa busana memang membuat mata-mata simpati, bahkan sebagian ada yang menyuruhku pindah, ah tahu apa mereka, mereka tak bisa mendamaikan diriku dengan ketelanjanganku, entah kemana baju-bajuku, entah kemana keinginanku akan kehidupan ini, aku ingin tidur terbaring di dalam sana, berselimut tanah berteman cacing-cacing.

    Kebebasanku kini berawal dari cinta  terbalut nafsu, saat datang seseorang mencintaiku padahal ia telah mencintai yang lain, menjadikanku pelepah pisang yang terus dikuliti sedang ia memiliki pohonnya yang  ia sirami setiap hari, semakin lama aku semakin faham akan makna cinta, semua itu bukan cinta, semua itu adalah pikiran manusia yang ingin terus mencari titik titik syahwat, cintanya padaku hanya sebatas serpihan benda benda halus kecil di kegelapan yang terlihat jelas saat secercah sinar matahari menerobos masuk. cinta mempermainkanku, Bukan cinta, itu syahwat, syahwat mempermainkanku, ia mempermainkanku, mempermainkanku, hah... kini dalam ketelanjanganku aku merasa menang, kemenangan akan cinta yang kusendiri belum tahu apa itu cinta tanpa syahwat.

   


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?