Jangan Mau dibegoin Sinetron.

    
     Melihat Sinetron di Tifi betein banget, ga tahu sebabnya gimana, ditambah program televisi yang musiman, dulu saat musim setan, di tifi muncul dunia lain, uka-uka dan sebagainya, sekarang entah ada apa muncul lagi film-film lawas edisi revisi seperti Kian Santang dan Tutur Tinular, namun nggak serunya edisi yang diperbaiki ini, rasa jadulnya nggak dapet, moso semua pemeran dalam sinetron ini berpakain baru semua, ndak ada yang kotor, dekil atau apalah, dan juga semua properti yang juga baru, serba baru, jadi nilai-nilai masa lalu kayaknya ngga kena dan nggak dapet, ya walaupun kejar tayang atau mungkin biayanya mahal, disodorkanlah pada masyarakat sinetron instan, malah pernah saya lihat film kolosal dengan tema cerita kerjaan jaman dahulu masa pemainnya ada yang pakai celana jins, kan ora matuk.

     Mungkin buat sebagian penikmat sinetron hal seperti itu tak masalah, mau pakai apa  kek, di mana kek, yang penting ceritanya nyambung dan bikin penasaran. tapi buat saya film-film seperti itu serasa membodohi akal saya sendiri, masa di dalam film kalau sedang berantem bisa terbang-terbangan, padahal setau saya terbang-terbangan hanya ada dalam babad, dan itupun bertujuan untuk memuji dengan pujian berlebihan pada raja-raja jaman dahulu dan tidak berdasar pada kenyataan, kenyataannya? ya mereka sama seperti kita, jalan pakai kaki, tak terbang seperti burung. bahkan parahnya lagi kalau sedang berantem dan gelut di antara mereka, akan keluar sinar warna-warni dari tangan mereka yang digosokkan, atau yang digerakkan dengan gerakan-gerakan super aneh. kemudian sang sinar dilempar dan beradu, duarrr dan si pelempar sinar terpental ke belakang, seperti itulah pakem berantem di tifi-tifi yang saya tonton. memang cerita boleh melenceng dari aturan hukum keseharian yang manusia tak bisa terbang, tak ada sinar keluar saat berkelahi, contohnya seperti ultramen yang sah-sah saja melawan monster yang memang sebenarnya nggak ada di muka bumi. tapi kalau film berbasis sejarah ? ya ndak bisa gitulah, itu namanya pembodohan. sejarah ya harus sesuai dengan cerita yang sampai, memang wajar kalau suasana tempat tak tampak seperti jaman dahulu, tapi yang nggak wajar kalau semua pemeran dalam sinetron pakai lipstiknya menor banget, make-upnya mungkin sampai satu senti, apa telah diteliti kalau dandanan nyata mereka seperti itu. belum lagi cahaya yang keluar saat adu jotos, terbang dengan ketinggian luar biasa, jalan di atas air, apa benar seperti itu, sedangkan sejarahnya belum dikaji lebih lanjut. 

      kalau seperti ini jadinya, kita hanya disuguhi sebuah cerita gubahan atau plagiat dari kisah masa lalu yang telah diubah-ubah, bukan sinetron yang menjunjung tinggi nilai-nilai sejarah yang penting dan akan membangkitkan semangat yang nonton, bukan cinta-cintaan terus, anak diculik, perebutan kekuasaan, selingkuh, masa dalam sinetron sejarah yang seperti itu yang diangkat jelas kepermukaan, seakan sinetron itu bukan sinetron sejarah tapi sinetron biasa yang hanya minjem istilah sejarah. semoga kita makin cerdas memilih mana yang baik dan mana yang nggak seru, karena tampilnya sebuah tayangan juga berdasarkan keinginan kita sebagai penikmat dan penonton.
     





Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?