Merasai Ramadhan

       Merasai Ramadhan dari tahun ketahun, semakin gersang, semakin dekat dengan keduniawian, bulan ini pedagang sibuk dengan dagangaannya, para ibu sibuk dengan apa yang akan dimakan saat sahur dan berbuka, para bapak sibuk dengan pekerjaannya, banyak yang berpikiran butuh uang banyak untuk berlebaran, baju baru, makanan enak, mersen anak-anak kecil. tapi sedunia itukah bulan ramadhan?

     Melihat ramadhan di tifi-fiti pun tak jauh berbeda, kemarin pagi di tempat foto kopi, konser trio macan sudah muncul di televisi, dilihat jutaan warga muslim yang tengah berpuasa, busana mereka semaunya, inikah ramadhan yang selalu dinanti? dinanti untuk mendekatkan diri pada Allah, ataukah dinanti hanya untuk mendulang lebih banyak uang, lebih banyak popularitas, dan lebih banyak ragam makanan untuk disantap saat berbuka, lebih banyak tertawa, lebih banyak hadiah, dan lebih banyak ikatan keduaniwiyan lainnya. 

    Jika seperti itu ramadhan, lalu apa makna ramdhan dari tahun ke tahun, Jika kita malah turun kembali dari tangga akhirat menuju teras dunia?

    Di sisi lain, para muslim mengkaji berbagai macam kitab, satu bulan penuh, menulisnya dengan petuah-petuah keramat, namun setelah selesai, diletakkannya begitu saja, tak disentuh sampai tahun berikutnya, inikah makna ramadhan?, beribadah siang malam, mengkhatamkan sebanyak-banyaknya al-quran, tapi hanya sebulan?.

     Pada akhirnya kita semua berharap semoga ramadhan tahun ini menjadi awal bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, walau tidak separipurna sang Rasul.

     Marhaban ya Ramadhan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Kelebihan Vespa = serign bebas tilang