Kejenuhan Teknologi

     Luar biasa memang, dulu saat masih kelas 1 smp ingin sekali memegang sebuah telepon genggam, ya, hanya menggengam,sekedar mengetahui bagaimana huruf-huruf dapat ditulis disebuah alat komunikasi super canggih itu.

    beberapa tahun sebelumnya, saudara ada yang memiliki pager, dan itupun saya hanya bisa melihat saja, belum pernah menyentuhnya, takut rusak :( , kini, seiring berjalannya waktu teknologi seperti berlari jauh mendahului, telepon genggam berubah dari waktu ke waktu, telepon genggam dengan nada monoponik berlayar monokrom digantikan dengan poliponik berayar warna, dan seperti itu terus susul menyusul, yang semuala hanya sebagai alat komunikasi, kini telepon genggam seperti sebuah toserba, radio, tv, penyetel video, musik, gps, kompas, hingga membaca buku pun bisa kita lakukan di alat komunikasi dalam genggaman ini.

   Kita dipaksa untuk membeli telepon genggam terbaru oleh para pembuat telepon genggam, iklam yang memojokkan, memaksa kita meninggakan produk-produk lama yang mereka anggap tidak sesuai dengan jaman, karen mereka punya barang terbaru, punya telepon genggam yang baru, ini lebih bagus dengan segala macam fitur di dalamnya. dan memang benar manfaatnya begitu terasa, komunikasi semakin mudah, informasi bertebaran dimana-mana. hidup menjadi lebih mudah, benarkah demikian? benar.

   Saat ini kita tak perlu lagi membawa berjilid-jilid novel untuk dibaca, karena sekarang kita dapat memasukkan satu rak buku bahkan lebih ke dalam sebuah telepon genggam, tak perlu membawa gulungan film, atau kepingan vcd, tak perlu membawa kaset karena semuanya telah terbenam ke dalam telepon genggam.

   Kita tahu dunia selalu memiliki kawan, siang malam, susah senang, begitu juga teknologi ia memiliki kebaikan dan keburukan, terbukti  karena ketidakarifan menggunakan teknologi dapat membuat kita sedikit jarang mengunjungi kerabat, sanak dan keluarga jauh, alasannya kan sudah ada telepeon, pesan singkat atau inernet :). informasi yang melimpah kadang membuat kita menggampangkan sesuatu, karena tidak semua ilmu ada di dalam internet, bagaimanapun buku-buku serta guru serta pengalaman tetap menjadi rujukan utama sebuah ilmu. 

   Dan pada akhirnya, timbullah kejenuhan teknologi. beragam fitur canggih dalam sebuah telepon genggam hanyalah menjadi pil perangsang yang diselipkan agar kita membeli produk mereka, koneksi jejaring sosial yang ada di dalamnya pun lebih banyak menjadi penghias dan pelepas status dengan teman-teman maya, intensitas membuka jejaring sosial berkurang, ya karena kejenuhan lambat laun melanda jiwa ini, untuk apa melihat dinding yang kotor dengan banyak keluhan, sekalipun ada motivasi hanyalah terlesip dalam himpitan kata-kata kesah.

    Tak sedikit dari kita yang berusaha memiliki berbagai jenis telepon genggam canggih yang pada akhirnya yang ia gunakan lebih sering mengirim pesan dan bertelepon. kecanggihan teknologi bisa jadi membuat kita terlena dengan kehebatan-kehebatan yang membuat hidup ini semakin mudah, nyaman, dan bahagia. tapi kenyataannya kita malah menjadi sasaran empuk agar uang kita jatuh ke tangan mereka, karena sadar atau tidak kekreatifan mereka membuat kita terus menerus menukar yang kita miliki dengan sesuatu yang baru, padahal secara nyata harga-harga telepon genggam cukup mahal, mungkin saja sedekah kita tak ada sepersekian persen dari harga telepon genggamyang kita miiki.

  walaupun kita manusia menghadap langit, dan langit yang luas menjadi milik kita, kita tak akan pernah merasa puas, kita ingin lebih dan lebih. seperti itu pun teknologi. seperti itupun mereka para penjual seperti ini pun kita para pembeli.

  pada intinya kembali dan tanyakan diri kita, semua yang kita beli belum tentu kita butuhkan, ada orang-orang butuh di sana yang membutuhkan kelebihan dari sikap kita untuk menahan diri tidak membeli apa yang tidak kita butuhkan walaupun sebenarnya ingin. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?