Kemana Permisi-mu?

  Belum lama ini sepupu bari kembali ke tanah air setelah lima tahun belajar di Luar Negeri, ia membawa wawasan baru, pemikiran baru juga pengalaman baru, tapi ia masih saja yang lama dengan kesehajaannya.
kami kerap berdiskusi mengenai pendidikan di sini dan di tempat ia menyerap ilmu, dan akhirnya sampai pada pembicaraan tentang perbedaan keadaan dan budaya  yang ia dapati di kampung halaman setelah 5 tahun hidup di negeri orang.

   Ia berpendapat kalau bangunan tak banyak berubah namun ada perbedaan yang begitu kentara yang ia rasakan antara sekarang dan lima tahun lalu, sekarang jarang sekali orang mengucapkan permisi saat melintasi jalan dan gang yang kebetulan di jalan atau gang itu sedang ada orang berkumpul. mereka bagai kedebong pisang yang lewat begitu saja tanpa ada basa basi dan sopan santun permisi, slonong  boy, tak mengindahkan orang lain. ada pergeseran nilai budaya yang menyebabkan  perubahan sosial dengan ciri saat permisi dianggap bukan sebagai tolak ukur kesopanan (memprihatinkan).

  Akankah hilang jati diri kita sebagai bangsa yang berbudaya, bertatakrama, bersopan santun juga berbudi pekerti. perubahan memang keniscayaan, tapi tak baik kalau modernisasi berjalan sebanding dengan kelunturan budaya yang kita junjung tinggi seperti nilai etika yang bersumber dari unsur karsa manusia.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Kelebihan Vespa = serign bebas tilang