Rehat

Saya senang membaca puisi, terutama karya rendra, populer tapi serasa menjitak kepala, atau karya khairul yang sarat emosional seorang manusia, atau karya MH. Ainun Najib, selalu saja mengingatkan saya supaya cepat bertobat, atau karya Dosen saya Sapardi Djoko damono, sederhana dalam kiasan bahasa cinta, bapak emang omnya puisi cinta. Juga KH. Mustofa Bisri, puisinya nyentil, nyekek dan pada akhirnya melepas bebas supaya megap-megap hirup udara bebas, puisi mereka semua tidak ambigu, mudah dicerna, tapi berat maknanya minta ampun kerennya. Tapi belakangan saya kagum pada puisi puisi sardi kapilano, ambigu, multitafsir, dan tetap sebuah masterpis yang sungguh indah untuk dibaca dibaca dan dibaca.

Dan masih banyak lagi-lagi dan lagi puisi puisi luar biasa lainnya,

Untuk cerpen, saya merasa Langit makin mendung karya kipanjikusmin masih belum menemui rivalnya hingga hari ini. Cerpen kontroversial, memenjarakan pemberi izin terbitnya, juga cerpen campur aduk dari kelas lumpur hingga presiden, semua habis disapu dicerpen ini. Sara seakan bukan hal tabu, oh kipanjikusmin. Luar biasa. Atau tahun sejuta masehi karya taufik al-hakim. Kenapa bisa sampai berpikir se sebuah hal yang tak pernah terpikirkan, atau sang mortir... Hampir saya tidak percaya Ia bisa berpikir kala Iblis ternyata seorang syahid bagi manusia agar bisa masuk syurga, kenapa bisa sampai berpikir ke sana ya?
Kreatif.



Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Kelebihan Vespa = serign bebas tilang