Semburat Bulan purnama nongol di antara daun kangkung-kangungan yang tumbuh berjejal di pinggiran rawa.

   ini Jumat Legi ndak boleh disia siakan, nunggu nya cukup lama sampai satu bulan pikir Nresno,  yang sedari pagi nunggu di depan rumah panggung beralas paprahan bambu dengan dinding bilik dan atap daun kirai.

   "Asalamualaikum , Eyang, niki Nresno Yang". ucap nresno sambil mengetuk pintu.

  dua kali, belum ada balasan.. yang ketiga baru ada balasan dari dalam

   "Oalah, wonten nopo nduuuk ? niki jam satu malam toooh" sambut suara dari dalam rumah bambu.

   "anu, mbah.... kulo gadah priyogi kalawan mbah" jawab Nresno.

Bulan makin terang dan bulat sebulat pantat dandang seterang bohlam 80 watt. Nresno masuk ke dalam. Eyang tengah duduk menonton Berita malam Maknyos Tv, terdengar suara penyiar :

 "angka ke pacaran Para kampuser di berbagai universitas Negeri Anom melonjak tajam, para dosen khawatir mereka tidak kebagian jatah pacaran."

  wonten nopo nduuuk ? kata eyang sambil mematikan cerocos penyiar TV, seketika suasana hening, jangkring kurus dan kodok busung meneriakkan kemenangan karena Tv sudah dimatikan, krik dan bletang bletong suara mereka berdua makin jelas kedengaran. 

  hmmm, Anu Eyang, anuuu... ucap Nresno dengan gugup

  "Anu anu, anu muh piyeee toh nduuk ? mau di sunat ?" ucap eyang tegas, lelaki paruh baya itu selalu saja membuat Nresno Gugup di dekatnya. dulu waktu ia kelas 1 SMA, lelaki itu merupakan Guru Spritual sekaligus guru bela diri terkenal di daerahnya.

  mboten Yang, Nu kulo wis disunat waktu kelas 2 SMP, Maksute kulo, niki wingi Jumat legi, mudah mudahan eyang faham dan masih ingat percakapan kita satu bulan lalu..

   Eyang mencoba mengingat ingat, lalu ia meneruskan "oalaaaah hampir lali aku nduuuk, iya iya, sing aku janjikan satu bulan lalu wis siap neng angge sesuk enjing". ucap Eyang. 

   Nresno menerima selembar kertas bertulisan aksara jawa kuno, ia faham dan mengerti cara membacanya, baginya tulisan bagai cacing cacing kepanasan ini makanan sehari harinya, babad pagedongan telah rampung ia baca, babad manaking sakapindang, babad semar mesem dan masih banyak babad yang telah ia baca dan kuasai. tapi .... Hati Sarmi belum jua luluh. dibacainya di ulang ulang. mahar sudah terbayar lunas pada para dukun, tapi Sarmi bagai punya penangkal. sulit menjinakkan hatinya. membodohi kelogisannya.

   Nresno begitu sumringah, ia lari bertelanjang kaki dari rumah Eyang di pinggir rawa, menuju ke base camp teman temannya. besok musim panen, Sarmi pasti ke sawah. pikir Nresno.

 Ia akan menjuampainya di sana dan membacakan babad pagedongan yang berisi para ksatria beradu sastra hingga dapat lompat lompatan di pucuk pucuk daun.  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Kelebihan Vespa = serign bebas tilang