Dasar Cina !

Menebar Kebencian 
Biar ndak salah faham dibaca sampai tuntas. 


Satu alasan saya menulis tulisan ringkas ini lantaran membaca sebuah tag di fb yang mengacu sebuah link website berisi tulisan yang bernada diskriminasi (pembedaan perlakuan thd sesama warga negara ) dalam hal ini ras keturunan Tionghoa. 

Dalam tulisannya mengutarakan lemahnya peran pemerintah dalam mendukung pribumi mengelola ekonomi di negeri sendiri, alih alih perekonomian kita dikuasai oleh sebagian besar warga negara keturunan Tionghoa, dalam banyak hal, makro maupun mikro.

Berdasarkan pengalaman saya, saat bekerja di restoran mewah hampir 90% penikmatnya merupakan saudara kita berkulit bersih dengan wajah khas oriental, sedang para pekerja kebanyakan berkulit seperti saya agak matang seperti sawo. Juga halnya saat saya berbelanja ke pasar asemka, berapa banyak pribumi (yang saya maksud adalah kaum mayoritas asli turunan tulen Indonesia)  memiliki Toko berjualan kelontong? se titik. 

Bagaimana Pabrik-pabrik besar di Tangerang? Saat saya bertemu general manager PT. presindo, dia keturunan tionghoa. Saat saya bertemu bigbos  PT. jayalatex, dia pun orang turunan Tionghoa, saat saya minum kopi di roti bakar 88 sing duwe turunan tionghoa, bahkan ketika sampean ngisep minakdjinggo sampai dji sam soe yang setia menemani habis buka puasa, sopo sing duwe? Pak Bejo, pak Asep atau poetra Sampoerna?, ya poetra Sampoerna pemilik saham walau sebagian sudah diakuisisi oleh philips moris. Nah poetra sampoerna turunan mana? 

Jadi yo memang kerasa jika segala lini ekonomi ada mata rantai saudara kita yang tidak kebetulan keturunan tionghoa di dalamnya. 

Dan pada akhirnya tersulut kebencian dengan bilang "itu orang cina kaya kaya amat ya, lah gua kayaknya nyari duit buat beli motor juga susah jasa". Ndak redo kalau warga pribumi jadi kuli di negara sendiri, bener begitu ? Yo bener laaaaah, terus mesti benci ? Yooo jangan, moso benci, benci itu pada orang yang mutusin cinta kita!! Woalah ngawur hehehe. 

Cobalah jalan jalan ke Pantai Indah kapuk, ke pluit, summarecon, alam sutera, modern land, perumahan Lippo. Sampean bakal ngerasa bukan di Indonesia, hihi. Karena rata rata pemilik properti di tempat yang saya sebut adalah saudara kita keturunan Negeri tirai Bambu. Terus ndumel? Terus sewot gitu? Benci gitu? Yaaa jangan... Coba renung dan cari cari informasi kenapa mereka bisa kuat dari segi ekonomi ( saya akan paparkan sedikit dalam tulisan ini) 

Jadi jangan nebar benci, comot link ora jelas menebar fitnah dan kebencian, membuntuti, mencari cari kesalahan, Menguntit informasi semu, saat sampean naro link berisi informasi kebencian, atau informasi keagamaan yang belum sampean klarifikasi kemudian ada orang jadi ikut mengiyakan informasi yang nyempil nada benci di dalamnya setelah mengklik link yang sampean taruh, sampean dapat satu pengikut untuk saling benci, makin banyak pengikut makin sukses sampean bikin negara ini makin semrawut. 


Kita terlalu lama dalam kebodohan

Pernah Baca tetralogi Bumi Manusia tulisan Mas Pramoedya Ananta Toer? Jika sudah Alhamdulilah, jika belum, beli bukunya ! baca biar tau kita seperti apa pada jaman dahulu, sebetulnya bukan dahulu karena kesannya udah lama banget, pada jaman penjajahan belanda. 

Dalam bukunya, kaum inlandeer/bumi putera/pribumi pada masa penjajahan mendapat sedikit akses pendidikan. Kecuali anak anak orang kaya, makanya miskin pangkal kebodohan ( bukan kata saya), apalagi udah miskin kaga mau belajar ( ini juga bukan kata saya). 

Nah karena sedikitnya ilmu, sedikit juga wawasan akan dunia jual beli ( karena pakai hitung hitungan), sedikit juga ilmu pemasaran, produksi dan lain lain. Jangan ngomongin apa nenek moyang kita bisa baca apa ngga? Mungkin arab pegon bisa, tapi aksara latin besar kemungkinan tidak, Karena warga bumi putra boro boro mikirin pendidikan, buat makan aja masih susah.

Belum lagi sebelum penjajah datang, orang indonesia di kuasai kerajaan yang hobinya perang main caplok caplokan, ya kapan sempet belajarnya. Wong rajanya ndak mikirin gimana rakyatnya sekolah, mungkin khawatir jadi pintar terus menggulingkan kerajaan minta ganti sistem dari monarki absolut jadi demorasi ( baca Arok Dedes Tulisan mas Pramoedya Ananta Toer). 

Di sisi lain, kerajaan sriwijaya sudah bersinggungan dengan orang tionghoa dalam urusan jual beli, begitu juga kerjaaan majapahit, kerajaan islam juga punya hubungan diplomasi dengan bangsa cina. Dan sampean tau orang orang cina merantaunya bukan sekedar antar kota seperti orang jawa ke jakarta tap antar negara bahkan antar benua, bukan untuk jadi TKI atau TKW, tapi untuk mencari kehidupan yang lebih baik. 

Saat kita di bawah kerajaan kita ora iso moco, saat kita di bawah penjajahan belanda makin parah, di bego begoin sama wong londo, lantaran kalau pinter nanti malah ngelunjak. 

Sedang Bangsa Cina yang datang ke Indonesia ( merantau ) baik itu suku Hakka, singkek maupun Hokian ( baca buku orang tionghoa dalam stabilisasi ekonomi dan politik di Indonesia, sebuah disertasi yang dibukukan) 

Jadi gini, orang cina yang datang ke Indonesia pada jaman dahulu itu minimal sudah punya bekal ilmu, setidak tidaknya membaca dan berhitung juga menelaah pasar, karena jauh jauh ke Indonesia kalau ngga kerjaan ya kelaparan. Akhirnya ada yang jadi pedagang pikul, tukang kredit duit ( rentenir), mereka pintar di saat kita masih bodoh, mereka buka usaha saat kita sibuk kerja rodi, saat kita sibuk romusha, sibuk usir belondo, sibuk garap lahan, sibuk debat sama centeng yang pro belanda, sibuk sama anak yang sakit, sibuk ini sibuk itu, duit ora dableg. 

Kalau sampean pernah melongok ke museum Bank Mandiri ( javanese Bank) pekerjanya rata rata dari keturunan tionghoa, karena mereka ngarti sama urusan duit lantaran udah pada belajar, lah orang kita jadi penjaga bank nya ( sekuriti). Udah mulai faham belum? 

Orang cina datang di indonesia bukan sebagai orang terjajah seperti nenek moyang kita, tetapi sebagai bangsa ke dua yang di pekerjakan oleh belanda karena kecerdasan mereka ( karena belajar ya, bukan karena orang cina punya otak lebih briliant. Otak mah sama aja), hanya saja nenek moyang saat itu kaga punya akses ke jalur pendidikan supaya pinter, pan banyak pribumi jaman dulu takut kalo ngeliat belanda. 

Mereka mendapat kesempatan terlebih dahulu untuk maju dan berkembang, memasuki berbagai aspek lini perekonimian, karena saat itu orang belanda yang megang politik, orang cina bolehnya dagang sama kerja di perusahaan mereka. 

Makin ke sini, mereka makin berkembang, karena pondasinya udah dipancang sejak jaman dahulu kala, dan jangan salah. Beberapa warga keturunan tionghoa memiliki koneksi yang kuat dengan saudaranya yang ada di luar negeri, jadi bisa lebih mudah meminta mereka jadi investor di sini di jalanin saudaranya yang warga indonesia. 

Terus terus bagaimana ?

Ceritanya masih panjang banget, intinya ngga usah khawatir, kita rajin rajin aja belajar dan baca peluang, rumusnya Tiru, amati dan modifikasi, dunia sekarang makin terbuka, walau kita agak telat dalam perekonomian dan jaringan serta kuatnya pendidikan, tapi bukan berarti kita bakalan lari dari persaingan. 

Kalau kata ahmad shugairi, 
Orang yang banyak bencinya, berarti dikit ilmunya.... 

Nyok lah, jangan saling benci, alih alih kita belajar aja yang bener, belajar wirausaha, belajar jadi spesalis di berbagai bidang, mereka warga keturunan juga orang Indonesia, kuta juga orang Indonesia, bumi di ciptain bukan cuma buat kita. 

Salam ramadhan, 
Allahumma innaka afuwwun kariiim 
Tuhibbul afwa fa fu anna ya kariiim. 














Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Takjil itu apa sih?