Pantai Carita anyer, kenyamanan dan balutan alamnya.

Belakangan saya membaca buku "Jalan Raya Pos, Jalan Deandels" sebuah buku catatan sejarah tentang dibangunnya jalan raya pos yang menghubungkan barat dan timur pulau jawa, tepatnya dari Anyer hingga panarukan. Anyer sebuah tempat di salah satu ruas pantai utara jawa, diceritakan bahwa di tempat ini pernah terjadi perlawanan masyarakat sekitar terhadap kompeni belanda baik sebelum kedatangan deandels dan sesudahnya. 

Memang Pramoedya Ananta Toer, sang penulis buku begitu piawai dalam menuturkan cerita, lekuk demi lekuk jalan dan deskripsi singkat kota dan daerah yang dilewati jalan itu menjadi jelas dengan ceritanya yang mengalir, termasuk saat beliau menceritakan tentang Anyer. saya sendiri sudah beberapa kali ke Anyer, baik pantai matahari, Cibereum dan yang terakhir minggu ini saya ke Pantai Carita. sebuah pantai pasir putih tak berkarang yang menjadi banyak tujuan wisatawan lokal. 

Mobil yang saya tumpangi sampai ke parkiran pantai carita, saya lebih memilih hari biasa untuk berwisata karena pantai tidak akan terlalu ramai, bagaimana bisa menikmati alam, kalau manusia manusia terlalu banyak berseliweran. mobil sampai tepat bibir pantai ini bisa karena suasana lengang dan minim pengunjung. saya, wisnu, moko, agus, ruslan dan fadil keluar mobil.... baru saja membuka pintu, ibu-ibu dan bapak bapak yang sepertinya penduduk sekitar langsung menghampiri kami, menawarkan Tikar, Tatto bahkan jasa pijit yang hanya 10.000. saya menolak dengan sopan, karena belum menemukan tempat yang nyaman untuk sekedar menarik nafas, setelah menolak mereka tetap datang lagi dan lagi untuk menawarkan. fiuh. 

Bukan tempat seperti ini yang saya harapkan, saya dan teman-teman bergegas masuk ke dalam mobil dan pergi lagi menuju arah barat pulau jawa. tepatnya ke Tanjung Lesung. di dalam mobil saya menerawang ke masa masa Deandels sampai di Anyer, tidak mungkin dia di tawari berbagai hal seperti tikar untuk duduk, tatto, dan lain sebagainya pasti ia kembali lagi ke belanda menghadap louis Napoleon untuk di mutasi saja ke daerah lain, hehehe.


pasir berkarang di Tanjung Lesung


sampai di tanjung lesung, kami di sambut dengan keheningan suasana dan sayup sayup deburan ombak yang terdengar dari kejauhan. pantainya ada yang berpasir putih ada juga yang berkarang, ini kali kedua saya ke sini, suasanya yang nyaman akan selalu membuat saya menyimpan rindu untuk tetap kembali ke sini, mungkin nanti bersama istri. 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Kelebihan Vespa = serign bebas tilang