freshback PP Darut Tafsir Ciampea Bogor


    Aku teringat saat pertama kali melancong ke darut tafsir dengan niat awal melihat bagaimana sih darut tafsir itu?, waktu itu aku bersama kakaku serta seorang ibu yang ingin mendaftarkan anaknya ke pesantren tersebut. aku pun sampai dimulut gang yang hanya mampu dilewati satu mobil ukuran carry dkk. jalanannya terus menurun dan sesekali menanjak, tercium wangi pepohonan saat pertama kali menginjakkan kaki di halaman pesantren. kami disambut dengan senyum guru-gurunya yang begitu ramah dan ikhlas turut menyejukkan hatiku setelah menempuh perjalanan more or less 2 jam dari kota tangerang.

    Pesentren yang pertama kali didirikan oleh KH. M.istichori Bin Abdurrahman berlokasi di Desa Cibanteng kec Ciampea kab bogor pada tahun 1974 memiliki lingkungan yang bersih dan asri. Pesantren ini juga terletak di dataran paling rendah dari daerah-daerah sekitarnya, sehingga wajar bila kita tidak akan kesulitan mencari air bersih karena dipondok ini terdapat sumber mata air yang digali oleh beberapa murid beliau.

    Akupun mendaftar di pesantren tersebut dengan berbekal niat yang tinggi dan keinginan mendalami keindahan dan keluasan tak terbatas agama islam.

                                                                             *********

      Hari pertama aku tinggal di pesantren rasanya masih menyenangkan karena temanku bertambah banyak ini sesuai dengan syi'ir yang terdapat dalam kitab ta'lim mutaallim "saafir tajid iwadan amman tufariquhu" yang artinya "pergilah engkau merantau niscaya kau akan mendapatkan ganti dari apa yang kau tinggalkan" Namun hari-hari berikutnya aku menjadi murung karena suasana rumahku rasanya enggan lari dari pikiranku, orang tua, teman, kegiatan sehari – sehari sewaktu aku masih dirumah yang kini semua berubah total, terkadang aku merenung sambil berfikir “kenapa nggak sekolah di luar aja, kenapa musti mondok, kenapa ini …….. kenapa itu ?, namun itu semua wajar karena aku belum dapat beradaptasi dengan baik bersama-sama orang-orang disekitarku.
     
     Aku masih ingat saat pertama aku dikunjungi, waktu itu adalah hari setelah dua minggu tinggal dipondok, ibuku datang bersama kakakku, akupun tak dapat menahan rasa sedih berbaur rindu sampai aku sempat meneteskan air mata saat curhat pada ibuku, betapa kuatnya ikatan batin antara ibu dan anak.

   Aku mulai bersosialisasi dan berinteraksi dengan baik, temanku mulai bertambah beberapa guru mulai kenal dan akrab denganku, sedikit- demi – sedikit hatiku mulai terikat dengan pondok pesantren ini, cintaku dengan pondok semakin hari semakin bertambah, sekedar pulang pun rasanya enggan, karena hidup dipondok begitu indah.
 
      Beranjak ke Kelas II Aliyah aku masuk organisasi OSIS dan aku terpilih jadi bendahara (aku masuk pondok mulai kelas I Aliyah sebelumnya aku sekolah MTsN 1 Tangerang) pengalamanku mulai bertambah saat itu aku merasakan bahwa sulitnya jadi bendahara berupa susahnya menagih iuran bulanan dari teman-temanku sampai-sampai masih saja nunggak beberapa bulan, aku mulai menyadari betapa susahnya negara memungut pajak dari rakyat... “kalau rakyatnya rajin bayar pajak nggak mungkin ada spanduk terpampang bertuliskan bayarlah pajak sebelum jatuh tempo, terasa sekali jika kas OSIS kurang segala kegiatan tidak berjalan lancar namun ada saja anggota yang inginnya simpel kalau ada yang kurang disana-sini maunya protesssss aja, tapi bayar kas aja blom (aku bukan menjelek-jelekan loh!) yah begitu juga negara .. jadi secara nggak langsung aku dapat merasakan bagaimana mengemban amanah dengan sebaik-baiknya…dan terkadang jika kas kurang aku berusaha untuk menambah walaupun itu nggak banyak yang penting kegiatan sedikit lebih lancar.. maaf jika ada orang tersinggung dengan kata-kata berikut “anehnya rakyat punya mobil mampu kredit motor… namun kas negara kurang, pendapatan pajak minim kok banyak pejabat yang gemuk banget, mobilnya keren abis, TV setiap hari berkoar-koar nggak ada capenya ngomongin berita mengerikan yang membuat rakyat kecil takut sambil berkata “dengan apa kami membeli beras!!” kalau di pemerintahan uangnya banyak yang dimakan tikus”” 

      Hari demi hari aku mulai memahami keberagaman sifat manusia yah seperti dikomunitas masyarakat biasa “ada yang bandel, males, rajin dll. Semuanya ada disini, toleransipun rasanya menjadi pilihan utama di PP ini.

    Mungkin terlalu banyak pengalaman yang akan kukisahkan, karena pernah pada awal-awal masuk pondok aku menghitung hari yang akan kujalani di tempat ini, kira-kira 1000 hari lebih.. "aku mendesah lemas. kok lama banget sih. tapi kujalani hari dengan penuh semangat kebersamaan (baik mandi, makan , tidur, ke mana pun selalu bersama) menghiasi hari-hari menjadi rajutan cerita yang melaju begitu cepat.

     Aku masih teringat teman-temanku yang berguguran meninggalkan pondok tercinta, ada yang karena biaya, kenakalannya, maupun karena dirinya sendiri tidak betah yang ingin hidup lebih bebas dan freeee. banyak hikmah belajar di tempat yang jauh dari rumah, seperti wawasan kita akan bertambah seputar daerah yang kita tempati, budaya, kebiasaan serta hukum adat yang berlaku di daerah tersebut .



bogor, Mei 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja di Pasar Senen, antara murah sangat dan sangat mahal

Pengalaman membuat SIM di Polres Tangerang

Kelebihan Vespa = serign bebas tilang